"Saya jamin, Pak Ezra... saya memberikan jaminan penuh," sahut Dokter Adrian cepat, suaranya sedikit bergetar menyadari kesalahan fatal dari sistem keamanan rumah sakitnya.
"Polisi akan berjaga dua puluh empat jam penuh di depan pintu ini dan di lobby bawah. Tidak akan ada satu pun wartawan, atau bahkan staf rumah sakit yang tidak berkepentingan, yang bisa berjarak sepuluh meter dari kamar ini. Saya mempertaruhkan jabatan saya."
"Jabatan Anda memang sudah seharusnya dicabut karena kecolongan data pasien, Dokter," balas Ezra tajam tanpa ampun.
"Mas..."
Sebuah tarikan lemah di ujung kemeja Ezra membuat pria itu menoleh, lalu menunduk, menatap ke arah Konita yang menatapnya dengan mata sayu yang dipenuhi genangan air mata. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi perempuan itu.
"Sakit, Mas... punggungku..." rintih Konita pelan, suaranya nyaris terdengar seperti bisikan yang putus asa.
Kemarahan di mata Ezra seketika luntur, digantikan oleh sorot kelembutan dan kekhawatiran yang mendalam. Pria itu segera berjongkok di depan kursi roda, mengusap lembut pipi Konita yang basah dan dingin.
"Maafkan aku, Sayang… maafkan aku," bisik Ezra pedih, lalu mendongak, menatap ke arah komandan polisi yang berdiri tidak jauh dari Dokter Adrian. "Bapak bisa pastikan keamanan kekasih saya?"
"Kami jamin, Pak. Dua personel akan standby di depan pintu. Tidak ada yang akan menerobos masuk," tegas polisi tersebut.
Ezra menarik napas panjang, menekan egonya dalam-dalam. "Baiklah…. tapi catat kata-kata saya, Dokter Adrian." Ezra berdiri, menatap sang dokter lekat-lekat.
"Saya hanya memberi waktu malam ini. Besok, urus semua administrasi kepulangannya. Konita akan saya bawa pulang secepatnya. Jika pihak rumah sakit mempersulit, pengacara saya yang akan bicara dengan direktur kalian."
"Baik… saya akan siapkan surat kepulangannya besok, setelah saya memastikan tidak ada pendarahan internal pada Nona Konita," janji Dokter Adrian seraya mengangguk cepat.
Ezra tidak menjawab lagi. Pria itu segera berbalik, memberi isyarat pada Luqman. "Pak Luqman, tolong pegang pintunya."
Luqman yang sedari tadi terdiam kaku segera mengangguk patuh, lalu menahan daun pintu berbahan kayu mahoni tebal, sementara Ezra kembali mengangkat tubuh Konita dari kursi roda dengan gerakan luar biasa hati-hati.
Konita memejamkan mata, membenamkan wajahnya di bahu bidang kekasihnya, menghirup aroma maskulin bercampur mint dari kemeja pria itu yang selalu berhasil menenangkannya.