Sinar matahari sudah tidak tampak mengintip malu-malu dari balik deretan gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.
Sinar keemasan itu menembus kaca anti peluru kamar VVIP, memantul di atas lantai marmer Italia yang dingin. Saat itu sudah pukul sepuluh pagi.
Di dalam ruangan mewah yang lebih menyerupai penthouse hotel bintang lima, ketegangan sisa semalam masih menggantung pekat di udara.
Ezra Yogaswara tampak berdiri di depan jendela kaca dengan ponsel menempel di telinga. Kemeja putihnya yang semalam kusut kini telah diganti dengan kemeja navy kasual berbahan linen, lengan bajunya digulung hingga siku memperlihatkan urat-urat maskulin di lengannya.
"Pastikan Range Rover hitamku sudah menyala di basement B3, tepat di depan pintu lift kargo medis. Aku ulangi, lift kargo medis, bukan lift penumpang," perintah Ezra dengan suara bariton yang ditekan pelan agar tidak membangunkan Konita.
“Kalau ada satu kamera saja atau wartawan yang lolos ke basement itu, aku pastikan kamu kehilangan pekerjaan hari ini," bisiknya lirih pada seseorang di ujung telpon.
Ezra segera mematikan sambungan telepon dengan rahang mengeras. Matanya yang tajam menatap jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan.
Berita tentang skandal Isvara Jennitra dan anak di luar nikahnya yang disembunyikan selama dua puluh lima tahun telah menjadi headline di seluruh portal berita nasional. Membawa Konita keluar dari rumah sakit ini sama dengan membawanya masuk ke medan perang.
"Mas Ezra..."
Panggilan serak itu membuat Ezra berbalik seketika, lalu melangkah panjang menghampiri ranjang, menatap Konita yang sedang berusaha mengubah posisi tidurnya. Wajah perempuan itu masih memucat, bibirnya kering, dan ada bayangan gelap di bawah matanya.
"Jangan banyak bergerak dulu, Sayang... biar aku bantu," ucap Ezra lembut sambil menyelipkan satu lengannya di bawah leher Konita dan lengan lainnya di punggung atas perempuan itu, membantunya bersandar pada tumpukan bantal dengan sangat hati-hati.
Konita meringis tertahan. Rasa ngilu yang tajam menusuk dari area panggul belakangnya, tempat jarum besar itu menembus tulang untuk menyedot sumsum tulang belakangnya kemarin sore.
"Masih sangat sakit?" tanya Ezra, tangannya yang besar dan hangat mengusap pipi Konita yang dingin.
"Seperti ditusuk besi panas, Mas," bisik Konita pelan. Matanya menatap Ezra dengan pancaran keputusasaan. "Apa di luar masih ramai?"
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu seujung kuku pun, Nita. Kamu percaya aku, ‘kan?" Ezra menunduk, lalu mengecup dahi Konita cukup lama, menyalurkan rasa aman yang sangat dibutuhkan oleh kekasihnya itu.
"Nita, Ayah sudah siapkan semua bajumu ke dalam tas."
Luqman muncul dari arah kamar mandi VVIP. Pria paruh baya itu tampak lelah, kantung matanya menebal pertanda dia sama sekali tidak tidur semalaman. Di tangannya terdapat sebuah tas ransel kulit dan kantong berisi obat-obatan pasca operasi.
"Terima kasih, Pak," jawab Konita dengan suara bergetar. Melihat ayahnya yang terbiasa hidup sederhana di bengkel pinggiran Jakarta kini harus terjebak di rumah sakit mewah ini karena masa lalunya, membuat dada Konita sesak.
Tepat saat itu, terdengar tiga kali ketukan di pintu kayu mahoni ruangan tersebut. Ezra segera berdiri tegak, memposisikan dirinya di antara pintu dan ranjang Konita layaknya perisai hidup.
"Masuk," perintah Ezra dingin.