Seorang pria berjaket kulit hitam dengan topi ditarik rendah tiba-tiba berlari keluar dari persembunyiannya sambil memeluk sebuah kamera DSLR berlensa panjang.
Namun, sebelum pria itu bisa mencapai pintu keluar darurat, Ezra berhasil mencengkram kerah jaketnya dari belakang, membantingnya dengan keras ke kap mobil ambulans yang terparkir di dekat sana.
"Aw! Lepas! Saya ini wartawan, Mas! Saya dilindungi undang-undang pers!" teriak pria itu panik saat Ezra memiting lengannya ke belakang dan merebut kamera dari tangannya.
"Kamu bukan sedang meliput, tapi sedang menguntit di area terlarang!" desis Ezra tajam di dekat telinga pria itu.
Jari-jari Ezra dengan cekatan menekan tombol di kamera tersebut, menghapus seluruh file foto dari kartu memori langsung di hadapan wajah si paparazzi.
"Mas Ezra! Hati-hati!" teriak Konita dari arah depan lift, suaranya bergetar hebat melihat kekasihnya yang biasanya tenang kini dikuasai amarah yang meledak-ledak.
Dua orang polisi segera berlari menyusul dan mengambil alih pria berjaket kulit itu dari tangan Ezra.
"Bawa dia ke kantor polisi. Saya akan kirim pengacara saya siang ini untuk membuat laporan resmi pasal peretasan privasi dan mengganggu ketertiban," instruksi Ezra sambil melempar kamera yang memorinya sudah kosong itu ke dada sang paparazzi.
Ezra segera merapikan kemejanya yang sedikit kusut, lalu berjalan kembali ke arah Konita dengan napas yang masih memburu.
"Maaf kamu harus melihat itu," ucap Ezra, nada suaranya langsung berubah melembut saat menatap Konita, lalu mengambil alih kursi roda dari Luqman. "Ayo, kita pulang sekarang."
Sonny sang sopir segera membukakan pintu mobil. Ezra menggendong Konita, meletakkannya dengan posisi miring yang nyaman di jok kulit mobil yang empuk. Luqman masuk ke kursi penumpang di depan, di sebelah si sopir sementara Ezra duduk di samping Konita.
Mobil mewah itu perlahan melaju, meninggalkan basement rumah sakit yang pengap dan merangkak naik menuju ke jalanan Jakarta yang terang benderang.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Konita memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya mengalir tanpa suara. Dia telah berhasil kabur dari rumah sakit, akan tetapi bayangan wajah Isvara Jennitra yang sedang meregang nyawa di ruang ICU seolah ikut masuk ke dalam mobil, menghantuinya dalam setiap tarikan napas.