Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #15

Reruntuhan di Balik Kemewahan

Rintik hujan Jakarta di bulan November mengguyur kaca jendela villa megah di kawasan Sentul dengan ritme yang monoton. Di dalam ruangan berukuran delapan puluh meter persegi yang didominasi warna gading dan emas itu, Konita Reveena duduk bersandar pada tumpukan bantal bulu angsa yang empuk. 

Kamar itu adalah lambang kemewahan kolonial modern, lengkap dengan lantai marmer Italia yang selalu hangat dan aroma lilin terapi beraroma sandalwood yang menenangkan.

Namun, tidak ada ketenangan di wajah Konita. Gadis berusia dua puluh lima tahun itu menatap ponsel di genggamannya dengan tangan bergetar. Sebuah panggilan baru saja terputus, meninggalkan gema kehancuran yang mutlak.

"Siapa yang menelepon, Non?" tanya Mbok Sumi, asisten rumah tangga setia keluarga Ezra, yang baru saja meletakkan mangkok porselen yang berisi bubur abalon dan segelas air hangat di atas meja nakas.

Konita tidak langsung menjawab. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang tinggi.

"Pak Wijaya, Mbok," jawab Konita lirih. Suaranya serak, hingga nyaris habis, “dia pemilik resto tempat aku bekerja, Mbok.” 

"Oh, pemilik Restoran tempat Non Nita kerja? Baguslah kalau beliau menelepon. Pasti menanyakan keadaan Non Nita setelah operasi kemarin, ‘kan?" Mbok Sumi tersenyum tulus, kerutan di sudut matanya memperlihatkan rasa sayang yang mendalam.

Konita terkekeh sumbang, sebuah tawa yang sarat akan kepedihan. "Menanyakan kabar? Nggak, Mbok…. dia menelepon untuk memecatku."

Nampan perak yang sedang dipegang Mbok Sumi hampir saja terlepas. "Memecat? Tapi... tapi Non Nita ‘kan chef terbaik di sana! Masa dipecat?"

"Itu dulu, Mbok…. sebelum berita tentang aku menjadi anak haram Isvara Jennitra tersebar luas." 

Konita memeluk lututnya, meringis pelan saat luka sayatan kecil di punggung bawahnya, bekas pengambilan sumsum tulang belakang berdenyut nyeri. 

"Pak Wijaya bilang, restoran bintang lima miliknya tidak boleh diasosiasikan dengan skandal moral. Para sosialita Jakarta mulai membatalkan reservasi karena nggak mau makanan mereka dimasak oleh 'anak haram' yang tidak tahu diri pada ibu kandungnya."

"Astaghfirullah... kejam sekali mereka, Non. Padahal Non sudah mengorbankan nyawa demi wanita itu." Mbok Sumi mengusap dada, matanya mulai berkaca-kaca.

"Pengorbanan ini nggak ada artinya bagi publik, Mbok. Di mata mereka, aku hanyalah anak durhaka yang sempat menolak menolong ibunya yang sekarat." 

Konita memejamkan mata, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya mengalir membasahi pipi. Tepat pada saat itu, pintu jati solid villa itu terbuka perlahan. 

Ezra Yogaswara melangkah masuk ke dalam kamar dengan setelan jas abu-abu gelap yang tampak sedikit kusut di bagian bahu. Wajah arsitek muda berusia tiga puluh tahun itu terlihat lelah. Namun, matanya langsung memancarkan kekhawatiran yang mendalam saat melihat air mata Konita.

"Mbok, biar saya yang menjaga Konita," ujar Ezra lembut. Namun, tegas.

Lihat selengkapnya