Di sudut lain kota Jakarta, tepatnya di sebuah kawasan padat penduduk di Jakarta Timur, udara siang terasa sangat menyengat. Debu jalanan mulai beterbangan, bercampur dengan aroma oli bekas dan asap knalpot.
Sebuah mobil Porsche Macan berwarna perak mengkilap terparkir canggung di depan sebuah bengkel motor kecil yang pagarnya tampak penyok. Kehadiran mobil mewah itu menjadi tontonan warga sekitar.
Beberapa orang tampak berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah mobil tersebut. Namun, pria yang keluar dari kursi kemudi sama sekali tidak peduli.
Ezra Yogaswara merapikan kemeja linen hitamnya yang digulung hingga ke siku. Pria itu melangkah melewati pecahan kaca etalase bengkel yang berserakan di lantai semen.
Di sudut ruangan yang temaram, Luqman Taher sedang duduk di atas kursi plastik usang, tangannya yang kasar dan berlumuran oli tampak gemetar saat memegang sebuah foto tua.
"Selamat siang, Pak Luqman," sapa Ezra sopan.
Pria paruh baya berusia lima puluh lima tahun itu mendongak. Kantung matanya menghitam, memperlihatkan hari-hari tanpa tidur. Saat melihat Ezra, Luqman buru-buru berdiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Nak Ezra... bagaimana keadaan Konita? Luka operasinya tidak infeksi, ‘kan? Dia makan dengan teratur?" rentetan pertanyaan itu meluncur dari mulut Luqman dengan nada putus asa dan penuh kerinduan.
Sudah dua minggu ini dia tidak bertemu dengan Konita yang sengaja bersembunyi dari kejaran para awak media yang masih haus memburu beritanya.
Ezra tersenyum tipis, merasa iba melihat kehancuran ayah angkat kekasihnya ini. "Konita baik-baik saja secara fisik, Pak. Asisten rumah tangga saya, Mbok Sumi... merawatnya dengan sangat baik di villa… tapi secara mental... dia masih sangat terguncang."
Luqman mengusap wajahnya yang keriput dengan kasar. "Ini semua salah Bapak. Bengkel ini dirusak wartawan tadi malam, tapi tidak sebanding dengan hancurnya hati anakku. Dua puluh lima tahun, Nak Ezra... dua puluh lima tahun Bapak berbohong padanya."
"Bapak menyembunyikan identitas ibu kandungnya untuk melindunginya, saya mengerti itu," sahut Ezra, melangkah maju dan menepuk bahu Luqman dengan lembut.
"Tapi Konita merasa dikhianati. Dia butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa pria yang selama ini menjadi sosok ayah tunggal paling sempurna baginya, ternyata bukan ayah kandungnya."
"Bapak mencintainya lebih dari darah daging Bapak sendiri," suara Luqman pecah, air mata mengalir di sela-sela debu di pipinya. "Tolong sampaikan padanya, Nak Ezra. Bapak tidak butuh dia memaafkan Bapak sekarang. Bapak hanya ingin dia aman dari kejaran media. Kamu... kamu bisa melindunginya, ‘kan?"