Beberapa hari kemudian,
Pagi di kawasan Kemang Jakarta Selatan dimulai dengan udara yang cukup dingin pasca hujan semalaman. Di dalam walk-in closet seluas butik mewah yang dipenuhi jajaran tas Hermès dan sepatu desainer, Isvara Jennitra menatap pantulan dirinya di cermin full-body.
Wajahnya dipoles riasan tipis, menutupi pucat pasi sisa operasi. Perempuan itu mengenakan midi dress hitam berlengan panjang rancangan Dior yang sederhana. Namun, menguarkan aura otoritas yang dingin.
Haris Prambudhi berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di depan dada dengan raut wajah yang tidak setuju. Setelan jas mahalnya tampak kaku, sejalan dengan kekakuan argumen yang sedang dia bangun.
"Anda benar-benar akan melakukan ini, Isvara? Membuka aib masa lalu di depan stasiun televisi nasional?" tanya Haris, nadanya berat oleh peringatan.
"Kontrak iklan dengan tiga brand kosmetik internasional akan langsung batal begitu Anda mengucapkan kalimat pertama di podium nanti."
Isvara memasang anting mutiara di telinganya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menoleh menatap ke arah pengacaranya. "Berapa kerugian finansialnya, Haris? Tiga puluh miliar? Lima puluh miliar?"
"Lebih dari itu.. reputasi yang Anda bangun selama dua dekade akan hancur lebur. Publik tidak akan memaafkan skandal moral kelas berat, apalagi yang melibatkan penelantaran anak kandung demi gaya hidup," balas Haris tajam.
"Uangku cukup untuk hidup sampai mati, Haris…. tapi reputasi putriku tidak bisa dibeli kembali jika aku diam saja." Isvara mengambil tas tangan hitamnya dan melangkah mendekati Haris.
"Siapkan mobilnya. Kita ke Hotel Ritz-Carlton sekarang. Aku sudah menyewa ballroom utama untuk konferensi pers."
Sebelum Haris sempat membalas, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari lorong. Shiela muncul dengan seragam sekolahnya yang belum rapi. Mata remaja itu membelalak melihat ibunya bersiap pergi.
"Mama mau ke mana?! Dokter bilang Mama belum boleh keluar rumah!" jerit Shiela, menghalangi jalan ibunya. "Mama gila, ya? Mama beneran mau bikin konferensi pers pagi ini. Untuk apa, Ma?"
Isvara berhenti, lalu menatap putrinya dengan tatapan lembut. Namun, penuh ketegasan. "Untuk memperbaiki kesalahan terbesar dalam hidup Mama, Shiela. Mama harus mengembalikan hidup kakakmu."
"Kakak, kakak, kakak! Terus saja sebut perempuan itu!" Shiela menghentakkan kakinya ke lantai marmer dengan kasar. Matanya memerah menahan tangis.
"Dia sudah merusak keluarga kita, Ma! Kenapa Mama harus menghancurkan karier Mama demi dia? Kalau Mama jatuh miskin, bagaimana dengan masa depanku?!"