Kamera menyorot tajam ke wajah Isvara. Seluruh wartawan di ruangan itu terdiam, menahan napas menunggu kalimat selanjutnya.
"Beberapa minggu terakhir, media menghancurkan hidup seorang gadis bernama Konita Reveena. Kalian menuduhnya sebagai anak durhaka, memanggilnya anak haram, dan menekan tempat kerjanya hingga dia dipecat."
Isvara menarik napas panjang, sebelah tangannya mencengkeram sisi podium hingga buku-buku jarinya memutih. "Hari ini, saya ingin meluruskan segalanya. Konita tidak pernah bersalah. Sayalah monsternya."
Konita menahan napasnya. Tangan Ezra yang menggenggamnya terasa semakin erat, memberinya jangkar agar tidak tumbang.
"Dua puluh lima tahun yang lalu, di puncak karier saya, saya hidup dalam pergaulan yang sangat bebas. Saya hamil di luar nikah dan bahkan tidak tahu siapa ayah dari bayi yang saya kandung," Isvara melanjutkan, mengabaikan gumaman kejut dari para wartawan yang mulai bergemuruh di dalam ballroom.
"Demi menyelamatkan karier, saya menyembunyikan kehamilan itu. Begitu bayi itu lahir, saya membuangnya. Saya memberikannya kepada saudara jauh saya, keluarga Luqman Taher, dan memaksanya bersumpah untuk tidak pernah memberi tahu anak itu siapa ibu kandungnya. Saya membayarnya untuk tutup mulut dan menghilang dari hidup mereka."
Air mata mulai menetes membasahi pipi pucat Isvara di layar kaca.
"Selama dua puluh lima tahun, saya tidak pernah mencarinya. Tidak pernah sekalipun. Hingga akhirnya saya divonis thalasemia parah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Saya mencarinya hanya karena saya ingin hidup. Saya memaksanya menolong ibu yang telah membuangnya seperti sampah."
Di dalam bengkelnya yang sedang direnovasi di Jakarta Timur, Luqman Taher tampak duduk terpaku di depan televisi tabung kecilnya.
Pria tua itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang kasar, menangis tersedu-sedu mendengar nama baiknya akhirnya dibersihkan oleh wanita yang dulu memaksanya menanggung rahasia ini.
"Pada awalnya Konita menolak, dan itu adalah reaksi yang sangat wajar dari seorang anak yang hatinya dihancurkan."
Isvara menatap langsung ke arah kamera, seolah sedang menatap mata Konita di seberang sana. "Tapi pada akhirnya, dia tetap memberikan sebagian dari tubuhnya untuk saya. Dia menyelamatkan nyawa saya, mempertaruhkan nyawanya sendiri di atas meja operasi. Jadi, saya mohon kepada seluruh masyarakat Indonesia, kepada media, dan kepada siapapun yang memusuhinya... berhentilah."
Isvara melangkah keluar dari balik podium. Mengabaikan larangan dari Haris Prambudhi yang berusaha mencegahnya, wanita angkuh itu tiba-tiba berlutut di atas panggung yang megah tersebut.
Wartawan menjadi histeris. Kilatan kamera bertubi-tubi menyerang sosok sang diva yang kini bersimpuh merendahkan harga dirinya hingga ke dasar bumi.
"Hukum saya…. boikot semua film saya. Caci maki saya sampai kalian puas," isak Isvara dari atas lantai panggung, "tapi biarkan Konita Reveena kembali memasak. Kembalikan pekerjaannya. Kembalikan martabatnya, karena dia adalah anak yang luar biasa murni, yang tidak pantas menanggung dosa ibunya."
Siaran itu tiba-tiba terputus, digantikan oleh suara heboh para pembawa berita di studio televisi yang mencoba mencerna pengakuan brutal tersebut.