Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #20

Kepingan Berharga

Sementara itu suasana kontras terjadi di sebuah rumah mewah bergaya Mediterania di kawasan Kemang. Ruang keluarga berlantai pualam Italia itu terasa sangat dingin. 

Isvara Jennitra tampak duduk bersandar di sofa beludru merah marun, wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usia empat puluh lima tahun yang dimilikinya. 

Rasa nyeri di tulang belakangnya kembali berdenyut pasca memaksakan diri berdiri lama di konferensi pers tadi. Namun, dia mengabaikannya.

Di seberangnya, Freya Maharani, asistennya tampak berdiri sambil memegang tablet digital, membacakan daftar kehancuran yang telah diprediksi, sementara Haris Prambudhi duduk di sebelah Isvara.

"Kontrak dengan Lumière Cosmetics, batal. Brand ambassador perhiasan Regal & Co, diputus sepihak dengan denda penalti. Rumah produksi film membatalkan peran utama Anda untuk proyek tahun depan," Freya menelan ludah, suaranya terdengar berat. 

"Publik memboikot semua karya Anda, Bu Isvara dan tagihan penalti ini... akan menguras hampir setengah dari likuiditas aset Anda."

Isvara menyesap teh chamomile dari cangkir porselen mewahnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu meletakkannya kembali ke atas meja kaca. Haris menggeleng pelan saat mendengar semua informasi itu.

"Bayar semuanya, Freya. Jual apartemenku juga di Singapura jika uang tunai kita tidak cukup," jawab Isvara tenang, hingga membuat Haris merinding.

"Isvara, Anda baru saja membuang karier yang Anda bangun dengan darah dan air mata selama puluhan tahun."

"Karier itu dibangun di atas kebohongan. Di atas penderitaan anak kandungku sendiri. Biarkan saja hancur." 

Isvara memejamkan mata, merasakan kelegaan aneh yang menyusup di dada. Beban rahasia yang mengimpit dadanya selama dua puluh lima tahun telah terangkat.

Tiba-tiba, suara roda koper yang diseret kasar memecah keheningan ruangan. Isvara membuka mata dan melihat Shiela turun dari tangga marmer melingkar. Remaja berusia lima belas tahun itu menyeret koper Rimowa merah jambu, wajahnya ditekuk dan matanya sembab oleh air mata.

"Shiela? Kamu mau ke mana dengan koper itu?" Isvara mencoba bangkit berdiri, tubuhnya terhuyung sedikit sebelum Haris sigap menahannya.

"Aku mau pindah ke rumah Papa," jawab Shiela ketus, tidak berani menatap mata ibunya. "Sopir Papa sudah menunggu di luar pagar."

Dada Isvara serasa dihantam palu godam. "Pindah? Apa maksudmu, Shiela? Ini rumahmu."

"Ini bukan rumahku lagi! Sejak perempuan itu muncul, Mama berubah!" Shiela berteriak, akhirnya menatap ibunya dengan sorot mata penuh kebencian. "Mama lebih peduli pada reputasi anak haram itu daripada masa depanku! Teman-temanku sekarang menganggapku keluarga pesakitan! Aku malu, Ma!"

"Shiela, dengarkan Mama. Mama melakukan ini untuk mengembalikan hak kakakmu. Dia…."

Lihat selengkapnya