Gemerlap lampu jalanan kawasan Sudirman memantul pada kap mobil Porsche Panamera hitam yang melesat membelah malam ibu kota. Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kulit mewah, ketegangan menguar begitu pekat.
Konita menatap ke luar jendela, melihat deretan gedung pencakar langit Jakarta yang seolah menjadi saksi bisu atas kehidupannya yang jungkir balik dalam sebulan terakhir. Jari-jarinya bertaut erat di atas pangkuan, meremas ujung trench coat yang dikenakannya.
Sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba meraih jemarinya yang sedingin es, mengurai tautan kaku itu, lalu menggenggamnya dengan lembut.
Konita pun menoleh, menatap ke arah Ezra yang sedang menatap lurus ke jalanan. Namun, ibu jari pria itu mengusap punggung tangannya dengan gerakan ritmis yang menenangkan.
"Kamu tidak harus melakukan hal ini sekarang, Konita," suara bariton Ezra memecah keheningan, "kalau kamu merasa belum siap untuk menghadapinya, aku bisa memutar balik mobil ini. Pengacara Nyonya Isvara bisa menunggu sampai kamu benar-benar siap."
Konita menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang. "Tidak, Mas Ezra. Semakin lama aku menunda, maka semakin lama bayang-bayang ini akan menghantuiku,” ujarnya datar.
“Pengakuannya di televisi pagi tadi sudah mengubah seluruh narasi hidupku, jadi mau tidak mau… aku harus menatap matanya malam ini, untuk memastikan bahwa aku bukan lagi korban dari keegoisannya."
Ezra menoleh sekilas, tatapan matanya melembut penuh kekaguman. "Baiklah…. aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu kamarnya. Aku akan menunggu kamu di depan, kalau dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu lagi, aku akan langsung masuk dan membawa kamu pergi."
"Terima kasih, Mas Ezra…. kamu selalu menjadi pelindungku," bisik Konita lirih.
Mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki area VVIP Rumah Sakit Pusat. Seorang petugas valet langsung menyambut mereka dengan sikap hormat yang berlebihan. Ezra turun terlebih dulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Konita.
Mereka kemudian berjalan bersisian melewati lobby utama yang berlapis marmer putih yang berkilau. Suasana terasa sepi, jauh dari hiruk pikuk rumah sakit pada umumnya.
Lift khusus berdinding kaca berwarna perunggu membawa mereka melesat menuju ke lantai delapan, area isolasi dan perawatan premium. Namun, begitu pintu lift terbuka, langkah Konita tiba-tiba terhenti.
Di tengah lorong yang dihiasi karpet tebal bernuansa emas, tampak berdiri seorang remaja perempuan dengan seragam sekolah yang dibalut jaket hoodie kebesaran. Wajahnya tampak merah padam, rambut berantakan, dan matanya menatap nyalang ke arah Konita. Gadis itu adalah Shiela.
Melihat kehadiran Konita, Shiela segera melangkah maju dengan cepat. Secara refleks Ezra menggeser tubuhnya, berdiri sedikit di depan Konita sebagai perisai pelindung, menatap tajam ke arah remaja itu.
"Puas kamu sekarang?!" teriak Shiela, suaranya bergema memecah keheningan lantai VVIP. Air mata mengalir deras di pipinya yang masih kekanakan.
"Kamu sudah merebut semuanya! Mama menghancurkan kariernya demi kamu, dan sekarang... sekarang dia kembali masuk rumah sakit karena tidak mau makan dan terus memanggil-manggil namamu!"
Konita tertegun, lalu menepuk lengan Ezra pelan, memberi isyarat agar kekasihnya mundur. Konita melangkah maju, menatap mata adik tirinya itu dengan perasaan campur aduk.