Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #22

Air Mata Kemarahan

"Tadi pagi, di depan seluruh rakyat Indonesia, Anda bilang kalau Anda hidup bebas di masa lalu, kalau Anda tidak tahu siapa pria yang menghamili Anda!" ujar Konita geram. Hatinya terasa sakit, kesal dan jengkel saat mendengar ucapan Isvara Jennitra.

"Anda tahu apa artinya itu bagi saya? Itu berarti saya adalah anak haram yang sesungguhnya. Saya adalah produk dari kesalahan yang memalukan!"

"Tidak... tidak, Sayang, jangan bicara seperti itu," Isvara merintih, mencoba meraih tangan Konita. Namun, gadis itu mundur dengan cepat. Konita segera menghindar dan tidak ingin disentuh oleh perempuan yang telah melahirkannya.

"Lalu katakan padaku!" Konita menangis histeris sambil menunjuk ke dadanya sendiri. "Siapa aku?! Jika darah yang mengalir di tubuh ini separuhnya adalah milikmu, lalu separuhnya lagi milik siapa?! Kalau aku ditakdirkan untuk mendonorkan nyawaku untukmu, setidaknya berikan aku satu nama, Nyonya Isvara Jennitra! Siapa ayahku?! Siapa laki-laki itu!"

Ruangan itu kembali hening seketika. Hanya terdengar suara napas Konita yang memburu dan isak tangis Isvara yang menyayat hati. Sang Diva terkenal menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tangisannya terdengar sangat memilukan, menggema dari dasar jiwa yang penuh penyesalan. 

"Aku... aku... tidak tahu... Ya Tuhan, aku sungguh tidak tahu, Konita," erangnya di sela tangis. "Dulu... di malam itu... ada sebuah pesta besar... aku mabuk berat. Semuanya gelap, ketika aku sadar keesokan harinya... aku sendirian di kamar hotel, aku tidak ingat laki-laki yang bersamaku malam itu."

Tubuh Konita membeku. Kakinya tiba-tiba terasa seperti jeli. Kebenaran yang menjijikkan itu menghantamnya lebih keras daripada skandal media mana pun.

"Jadi... Anda bahkan tidak tahu apa Anda... diperkosa atau melakukannya secara sukarela? Semua itu karena nafsu semalam, one night stand?" suara Konita berubah menjadi sebuah bisikan yang terdengar ngeri.

Isvara Jennitra menggeleng kuat-kuat sambil terus menangis. "Maafkan aku... maafkan ibumu yang kotor ini, Konita. Kamu bukan kesalahan. Meskipun masa laluku busuk, tapi saat melihatmu lahir... kamu begitu cantik. Aku membuangmu karena aku terlalu pengecut untuk melindungimu dari dunia hiburan yang kejam. Aku salah... aku sangat salah. Maafkan... aku..."

Konita mundur perlahan. Matanya menatap Isvara bukan lagi dengan kemarahan, melainkan dengan kekosongan yang mengerikan. Wanita di depannya ini bukanlah monster yang kejam, tapi hanyalah seorang manusia yang hancur karena dosa masa lalunya sendiri.

"Mulai detik ini," ucap Konita dengan suara hampa dan parau, "hutang nyawa di antara kita sudah lunas. Anda tidak berhutang apapun pada saya, dan saya tidak berhutang sumsum tulang belakang lagi pada Anda. Hiduplah dengan sisa kekayaan Anda, Nyonya Isvara dan tolong... jangan pernah mencari saya lagi. Lebih baik... kita tidak usah bertemu lagi setelah ini. Aku mohon..."

Konita segera berbalik dan berlari keluar kamar, dibantingnya pintu jati itu hingga mengeluarkan suara yang cukup keras, meninggalkan Isvara yang menjerit memanggil namanya dengan keputusasaan yang merobek malam kota Jakarta.

Di lorong depan, Ezra yang mendengar keributan itu langsung menangkap tubuh Konita yang nyaris ambruk. Arsitek muda itu segera mendekap Konita dengan sangat protektif, menyembunyikan wajah gadis yang sedang menangis pilu di dadanya dan segera membawanya pergi menjauh dari reruntuhan masa lalu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.

***

Mobil Porsche Panamera hitam itu membelah jalanan Tol Jagorawi dengan kecepatan yang cukup tinggi, meninggalkan pekatnya udara Jakarta menuju dataran yang lebih tinggi. Di luar, rintik hujan mulai turun membasahi aspal, menciptakan kabut tipis yang menyamarkan jarak pandang.

Di dalam kabin mobil, hanya terdengar suara alunan musik instrumental piano yang mengalun sangat pelan. Konita meringkuk di kursi penumpang, memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya masih bergetar. Tangisannya telah habis di lorong rumah sakit tadi, menyisakan tatapan kosong yang jauh lebih mengerikan daripada air mata.

Lihat selengkapnya