"Apa itu?" tanya Konita dengan suara serak.
Ezra melebarkan kertas kalkir tersebut di atas meja kaca di hadapan sofa. Lampu kristal dari langit-langit menyorot gambar rumit yang tergambar di atasnya.
Itu adalah sebuah cetak biru arsitektur. Denah sebuah bangunan tiga lantai dengan detail yang luar biasa mengagumkan.
"Dua hari yang lalu, saat Hendra Wijaya memecatmu dari L'Étoile, aku memutuskan untuk tidak tinggal diam." Ezra duduk di sebelah Konita, menunjuk ke bagian tengah denah tersebut. "Ini adalah lahan seluas lima ratus meter persegi di kawasan Senopati. Properti milik salah satu sahabatku, Robby Darmais."
Mata Konita melebar. Senopati adalah jantung distrik kuliner yang paling mewah dan mahal di Jakarta.
"Lihat area ini," jari telunjuk Ezra bergerak menyusuri garis-garis presisi di atas kertas. "Ini lantai pertama. Area fine dining dengan konsep dapur terbuka berdinding kaca. Persis seperti yang selalu kamu impikan. Para tamu bisa melihat langsung tangan magismu meracik hidangan dan lantai dua... adalah area VVIP dengan balkon yang menghadap ke arah kota."
"Mas Ezra... ini..." Konita kehilangan kata-kata. Desain itu sangat sempurna. Menggabungkan gaya industrial yang maskulin dengan sentuhan klasik yang elegan.
"Mereka membuang chef bintang mereka hanya karena skandal konyol." Ezra menatap ke arah Konita dengan senyum tipis yang memancarkan dominasi mutlak.
"Setelah ngobrol dengan Robby, sahabatku yang punya lahan ini, kami sepakat untuk membuat sebuah resto di sana. Sebuah restoran di mana kamu bukan sekadar karyawan, melainkan pemilik sahnya."
"Ini terlalu berlebihan, Mas Ezra. Aku tidak bisa." Konita menggeleng pelan, kedua bola matanya tampak berkaca-kaca melihat detail nama yang tertera di sudut kanan bawah cetak biru yaitu 'Reveena's - A Culinary Sanctuary'.
"Membangun sebuah restoran di Senopati membutuhkan biaya puluhan miliar. Aku nggak punya uang sebanyak itu, dan aku nggak mau menggunakan uang Nyonya Isvara."
"Aku nggak minta uangmu, apalagi uang wanita itu," potong Ezra tegas, lalu meraih tangan Konita dan menempelkannya di atas kertas desain tersebut. "Ini adalah investasi. Kami, aku dan Robby, sahabatku bertindak sebagai pemodal dan arsitek, sementara kamu adalah Executive Chef dan pemegang saham utama. Kita akan membangun ini bersama, Konita."
"Tapi reputasiku…."
"Reputasimu sudah dibersihkan oleh pengakuan Nyonya Isvara pagi tadi," sela Ezra cepat. "Publik menunggumu kembali. Mereka kelaparan akan karyamu. Aku yakin mereka kangen sama masakanmu.” Ezra berusaha memberikan motivasi agar Konita tergugah untuk bangkit kembali di dunia yang dia cintai.
“Konita... ini saatnya kamu membalas dendam ke dunia, bukan dengan amarah atau kebencian, melainkan dengan kesuksesan yang akan membuat mereka bertekuk lutut."
Konita menatap wajah Ezra yang dihiasi bayang-bayang temaram lampu kamar. Ketulusan di mata pria itu begitu nyata, menghancurkan dinding keraguan yang selama ini membelenggunya. Ezra tidak hanya melindunginya dari badai, tapi telah membangunkan sebuah bahtera untuknya.