Pintu terbuka, dan turunlah Hendra Wijaya. Pria paruh baya pemilik restoran bintang lima L'Étoile itu mengenakan setelan jas abu-abu mahal. Namun, wajahnya tampak merah padam menahan amarah. Di belakangnya, seorang asisten membawakan payung untuk melindunginya dari panas kota Jakarta.
Melihat kedatangan mantan bosnya, Konita memundurkan langkahnya sedikit. Namun, tangan Ezra di bahunya menahan gadis itu agar tetap berdiri tegak.
"Jadi rumor di asosiasi pengusaha kuliner itu benar?" sindir Hendra Wijaya sambil melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah plang proyek yang mencantumkan nama firma arsitektur Ezra.
"Ezra Yogaswara membeli properti emas di Senopati hanya untuk membuatkan mainan baru bagi mantan koki saya?"
Ezra maju satu langkah, menempatkan tubuhnya sebagai perisai bagi Konita. Aura intimidasi langsung menguar dari sosok arsitek muda tersebut.
"Perbaiki bahasa Anda, Pak Hendra," desis Ezra dingin. "Ini bukan mainan, tapi kuburan bagi bisnis Anda."
Hendra tertawa sumbang, sebuah tawa meremehkan yang terdengar dipaksakan. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya ke Konita.
"Kamu pikir membuka restoran itu mudah, Konita? Hanya karena kamu bisa memasak, bukan berarti kamu bisa berbisnis! Siapa yang akan memasok bahan baku premium untukmu? Semua supplier daging wagyu dan truffle di Jakarta ada di bawah kontrakku. Aku bisa memboikotmu dalam semalam!"
Jantung Konita berdegup kencang. Ancaman itu nyata. Dalam dunia fine dining, akses ke bahan baku premium adalah nyawa. Namun, alih-alih bersembunyi di balik punggung Ezra, Konita melangkah maju. Matanya menatap lurus ke arah mata pria yang dulu sangat dia hormati tersebut.
"Kalau begitu, saya akan mencari supplier dari luar negeri secara langsung," jawab Konita dengan suara tenang. Namun, setajam pisau.
"Anda memecat saya saat saya sedang berada di titik terendah, Pak Hendra…. anda membuang dedikasi saya selama empat tahun hanya karena takut pada media…. sekarang, saat publik tahu kebenarannya, Anda panik. Anda takut L'Étoile kehilangan bintangnya."
Wajah Hendra menegang. Rahangnya mengeras karena kata-kata Konita tepat mengenai sasarannya. Sejak pengakuan Isvara Jennitra kemarin, rating restoran L'Étoile anjlok drastis di berbagai situs ulasan kuliner karena memecat pahlawan publik.
"Jangan sombong, Anak Muda…. publik itu mudah lupa. Bulan depan, nggak akan ada yang peduli sama drama keluargamu yang memalukan itu!" ancam Hendra dengan telunjuknya mengarah ke wajah Konita.
Sebelum jari itu semakin dekat, Ezra sudah menepisnya dengan kasar. "Jangan pernah menunjuk wanita saya dengan tangan kotor Anda," geram Ezra.