Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #25

Pilihan Sinting di Senopati

Di pinggir jalan Senopati yang berdebu, Konita masih merasa bimbang, apa dia harus memberikan bantuan ke adik tirinya atau mengabaikan begitu saja. 

"Nggak ada yang perlu kamu lakukan, Ta. Kamu sudah cukup berkorban untuk mereka, sekarang pikirkan masa depanmu." Konita hanya terdiam, tidak merespon balik ucapan Ezra, hatinya masih bimbang.

Belum juga Konita memasukkan ponselnya ke dalam tas, tiba-tiba benda pipih berwarna hitam itu kembali berdering. Dilihatnya nama Freya terpampang di layar ponsel. 

"Mbak Nita... saya mohon. Shiela kritis." Suara Freya Maharani, asisten Isvara, terdengar pecah di seberang sana, beradu dengan suara derit mesin medis. 

"Golongan darahnya AB rhesus negatif. Saat ini stok di PMI seluruh Jakarta kosong. Nyonya Isvara sudah pingsan dua kali dan Shiela kehabisan darah setelah pendarahan lambung akibat komplikasi."

Napas Konita tertahan. Rasa ngilu yang tajam tiba-tiba menusuk punggung bawahnya, tepat di mana bekas luka operasi pengambilan sumsum tulang belakangnya seminggu yang lalu masih diperban rapat.

"Berapa kantong yang dia butuhkan, Kak Freya?" suara Konita bergetar, berusaha terdengar datar sambil berjalan menjauh dari Ezra agar pria itu tidak mendengar percakapannya dengan Freya.

"Tiga…. kata dokter minimal tiga kantong untuk menstabilkannya malam ini, Mbak."

"Tutup teleponnya, Ta…."

Sebuah suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba memotong dari arah belakang. Ezra Yogaswara tampak berdiri di belakangnya. Arsitek sekaligus pria yang telah mengisi hidup Konita selama dua tahun terakhir ini menatapnya dengan rahang yang mengeras. 

Setelan kemeja yang berwarna charcoal yang melekat di tubuh atletisnya tampak sedikit basah di bagian bahu. Pria itu melangkah maju sambil membawa gulungan yang berisi cetak biru proyek restoran.

"Mas Ezra…."

"Aku bilang, matikan ponselmu, Konita," potong Ezra lagi dengan nada kesal, suaranya tidak naik. Namun, auranya sangat mengintimidasi. Tatapannya tertuju pada wajah pucat pasi kekasihnya.

Konita menelan ludah, menatap Ezra, lalu kembali berbicara ke ponselnya. "Aku akan ke sana sekarang, Kak Freya. Siapkan semuanya."

Konita segera memutus panggilan sebelum Freya sempat menjawab, lalu membalikkan badan setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Lihat selengkapnya