Lobby VVIP Rumah Sakit Medika malam itu tidak terlihat seperti fasilitas medis, melainkan seperti lobby hotel bintang lima yang terasa dingin. Lantai marmer putihnya memantulkan cahaya lampu keemasan yang terang benderang. Namun, kemegahan itu kontras dengan kekacauan emosional yang terjadi di lorong menuju ke ruang ICU.
Begitu pintu otomatis terbuka, Konita bergegas melangkah masuk dengan napas tersengal. Di belakangnya, Ezra berjalan cepat, auranya segelap awan hitam yang membawa curah hujan. Tangan pria itu protektif berada di pinggang Konita, setengah menyangga tubuh wanita itu yang diam-diam mulai kehilangan keseimbangan.
"Mbak Nita!" Freya berlari menghampiri dari ujung lorong, wajahnya tampak sembap.
Namun, fokus Konita langsung tertuju pada sosok wanita yang duduk lemas di atas kursi roda di depan ruang ICU. Perempuan itu adalah Isvara Jennitra.
Aktris legendaris yang wajahnya selalu menghiasi papan reklame mewah di Sudirman itu kini tampak menyedihkan. Dress sutra merah marunnya tampak kusut, rambutnya pun berantakan, dan makeup-nya telah luntur oleh air mata.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Isvara mendongak. Saat matanya yang bengkak melihat kehadiran Konita, wanita yang usianya hampir 50 tahun itu mencoba maju, dibantu oleh asistennya yang lain yang mendorongnya dari belakang.
Tanpa mempedulikan tatapan beberapa perawat dan Ezra, Isvara segera meraih lengan Konita, menatap wajah gadis itu dengan tatapan memohon.
"Nita..." suara Isvara parau, tangannya yang gemetar, memegang erat lengan Konita. Gadis itu hanya terdiam dan tidak memberikan respon apapun sambil menatap ke arah Isvara, "Nita, Ibu mohon..."
Konita lalu menarik tangannya dan mundur selangkah, sorot matanya dingin menatap wanita yang telah melahirkannya itu. "Anda jangan seperti itu, Nyonya Isvara…. Anda membuat tontonan murahan di sini."
"Biarkan Ibu memohon, Nita." Isvara terisak, air matanya menetes, membasahi wajahnya yang pucat. Tangannya menangkup di depan dada.
"Hukum Ibu, Konita…. benci Ibu seumur hidupmu. Tampar Ibu sekarang juga, tapi tolong... selamatkan adikmu. Dia kehabisan darah. Dokter bilang dia hanya punya waktu dua jam sebelum organnya gagal berfungsi."
"Dia bukan ibu yang pantas memohon padamu, Nita," desis Ezra dari samping, suaranya sarat akan rasa muak. Pria itu menatap Isvara seolah wanita itu adalah kotoran.
"Sudahlah, Nyonya Isvara…. simpan akting Anda untuk kamera. Anda yang merusak hidup putri Anda sendiri, dan sekarang Anda memintanya mempertaruhkan nyawanya lagi?"
"Ezra, tolong..." Isvara mendongak menatap arsitek itu dengan rasa putus asa, "saya tahu kalau saya bajingan. Saya tahu saya ibu yang buruk, tapi Shiela tidak tahu apa-apa! Dia baru lima belas tahun!"
"Cukup!" Konita memejamkan mata sejenak, menahan pusing yang tiba-tiba menyerang kepala, lalu mengalihkan pandangannya dari Isvara yang terus menangis dan menatap lurus ke arah pintu kaca ICU. "Di mana dokternya, Kak Freya?"