Ruang transfusi VVIP itu terasa lebih dingin dari kamar mayat. Dinding berlapis wallpaper krem bertekstur sutra dan sofa kulit Italia di sudut ruangan sama sekali tidak bisa menghangatkan suasana. Satu-satunya suara yang mendominasi adalah dengung pelan dari mesin pendingin darah dan detak ritmis dari monitor jantung.
Jarum berukuran besar itu menembus pembuluh vena di lipatan siku kiri Konita. Posisinya terbaring di atas ranjang medis otomatis. Wajahnya yang sejak awal tampak pucat kini mulai kehilangan rona sama sekali, menyatu dengan warna sprei rumah sakit.
Konita hanya terdiam dan meringis kecil, menahan nyeri dan sakit saat jarum suntik itu menembus kulitnya, sementara Ezra tampak berdiri di sisi ranjang, sedangkan Isvara, Harris, Freya dan beberapa asisten sang diva menunggu di luar ruangan, berharap semuanya berjalan lancar.
"Alirannya sudah saya atur di kecepatan paling minimal, Pak Ezra," lapor Dokter Surya, tangannya sedikit gemetar saat menyesuaikan katup pada selang transfusi, "kita baru masuk ke kantong pertama, tiga ratus lima puluh cc pertama."
"Lalu kenapa monitornya berbunyi seperti itu?!" bentak Ezra cemas.
Pria itu tampak berdiri kaku di sisi kanan ranjang, kedua tangannya mencengkeram erat tangan kanan Konita. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di lehernya menonjol.
"Itu alarm batas bawah tekanan darah, Pak Ezra," jawab seorang perawat senior dengan nada hati-hati, "tekanan darah Mbak Konita mulai turun ke sembilan puluh per enam puluh. Ini reaksi yang wajar untuk tubuh yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi sumsum tulang belakang."
"Wajar Anda bilang?" Suara Ezra merendah, menjadi desisan berbahaya yang menggema di ruangan sunyi itu, "kalian sedang menyedot kehidupan dari tubuhnya setetes demi setetes. Jangan gunakan kata wajar di depanku, Suster."
Perawat senior itu hanya bisa menundukkan kepala dan tidak merespon balik ucapan Ezra, sementara Dokter Surya juga terlihat berdiri canggung di depan mereka. Aura dominasi yang dimilik Ezra terasa begitu kuat di ruangan itu.
Konita segera meremas jari-jari Ezra dengan sisa tenaganya, mencoba menarik perhatian pria itu. "Mas Ezra... berhentilah meneriaki mereka."
"Aku nggak meneriaki mereka, Ta. Aku hanya ingin memastikan mereka bekerja menggunakan otak, bukan sekadar menuruti kehendak pasien yang keras kepala seperti kamu," balas Ezra cepat sambil menatap tajam ke arah mata kekasihnya yang mulai sayu, "bagaimana punggungmu?"
"Ngilu sedikit." Konita berbohong, karena nyatanya, rasa sakit di bekas sayatan operasinya kini terasa seperti ditikam paku panas. Sensasi dingin mulai merambat dari ujung jari kakinya, naik perlahan menguasai seluruh pembuluh darahnya.
"Kamu ini pembohong yang buruk, Chef." Ezra mengangkat tangan Konita, lalu mengecup punggung tangan wanita itu berkali-kali dengan lembut. Bibir Ezra terasa dingin dan bergetar, "bertahanlah…. kalau kamu merasa nggak sanggup, kita hentikan sekarang juga."
"Nggak bisa dihentikan, Mas," sahut Konita dengan napas yang mulai tersendat. Kedua bola matanya menatap ke arah kantong darah pertama yang mulai terisi penuh cairan merah pekat. "Shiela butuh tiga kantong, Mas…. harus tiga."
Detak jarum jam terus berdetak, seirama dengan detak monitor jantung yang terus berbunyi secara konstan. Tanpa terasa lima belas menit sudah waktu berlalu, kantung darah itu telah terisi penuh.