"Pasien henti napas! Code Blue! Code Blue!"
Teriakan perawat menggelegar, merusak kemewahan steril yang sejak tadi mengungkung ruangan. Beberapa menit berikutnya, pintu ganda terbuka dengan kasar, memasukkan tim resusitasi yang berlari membawa defibrillator dan tabung oksigen.
Di tengah kekacauan itu, Ezra tampak membeku. Tubuh Konita merosot lemas, dan kepalanya terkulai tanpa daya di atas bantal. Rasa dingin dari kulit tangan Konita menembus kemeja putih Ezra, mengirimkan getaran teror yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
"Menyingkir dari sana, Pak Ezra! Kami harus memompa jantungnya!"
Dokter Surya menarik lengan Ezra secara paksa. Ezra pun terhuyung mundur dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang kekasih.
Matanya melebar, menatap kosong saat perawat memotong kemeja yang dikenakan Konita dengan gunting medis, sementara Dokter Surya bergegas menghampiri ranjang dan mulai melakukan kompresi dada yang brutal.
"Satu, dua, tiga, empat..."
Setiap hitungan kompresi terdengar seperti retakan tulang di telinga Ezra. Darah Konita telah menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, nyawanya sendiri malah ditarik secara paksa dari raga.
"Siapkan intubasi! Dia nggak punya jalan napas!" teriak Dokter Surya di tengah kepanikan. "Bawa dia ke ICU sekarang juga! Lanjutkan RJP di sepanjang lorong!"
Ranjang otomatis itu dilepaskan dari kuncinya, didorong dengan kecepatan penuh keluar dari ruang transfusi. Ezra tersentak dari keterpakuannya, sementara di luar ruangan, Isvara, Harris dan Freya juga ikutan panik begitu mendengar kegaduhan di ruang transfusi tempat Konita berada.
Seluruh tim medis bergegas mendorong ranjang yang ditempati oleh Konita ketika pintu ganda itu terbuka lebar. Ezra ikutan berlari mengejar ranjang tersebut, langkah kakinya yang panjang berderap melawan kilauan lantai rumah sakit.
Namun, ketika mereka tiba di depan pintu kaca ganda bertuliskan Intensive Care Unit atau ICU, dua petugas keamanan berbadan tegap menahan dadanya.
"Maaf, Pak! Anda tidak boleh masuk!"
"Lepaskan aku! Dia tunanganku!" raung Ezra, memberontak dengan tenaga penuh sambil mendorong salah satu petugas hingga terjerembab ke dinding. Namun, tiga perawat yang lain segera menahannya.
"Tolong percayakan pada kami, Pak! Kami sedang berusaha menyelamatkan nyawa tunangan Anda!" teriak salah satu suster sebelum pintu kaca buram itu tertutup rapat, mengunci Ezra di luar bersama ketidakberdayaan yang mengiris jiwanya.
Pria itu memukul dinding dengan kepalan tangan sekuat tenaga, mengabaikan rasa nyeri di buku jarinya. Napasnya tampak terputus-putus. Kemejanya pun kusut, Ezra menyandarkan dahinya di pintu kaca yang dingin, memejamkan matanya erat-erat saat air mata yang pantang dia jatuhkan kini menetes tanpa bisa dicegah.
"Ezra... bagaimana Konita?"