Hujan di luar sana telah menyusut menjadi gerimis yang tajam menjelang pukul empat pagi. Namun, hawa dinginnya sukses menembus dinding kaca ganda Rumah Sakit Medika. Ezra masih duduk membatu di kursi tunggu di depan ruang ICU.
Kemeja putihnya tampak kusut, lengannya pun digulung asal hingga ke siku, penampilannya benar-benar berantakan. Suara langkah kaki yang diseret tergesa-gesa memecah kesunyian lorong VIP.
Langkah itu tidak terdengar seperti pantofel mahal milik para dokter atau sepatu hak tinggi keluarga konglomerat, melainkan suara sepatu bot kulit sintetis yang solnya sudah aus.
Ezra mendongak. Di ujung lorong, dilihatnya sesosok pria paruh baya yang berlari tertatih ke arahnya. Laki-laki itu adalah Luqman Taher, ayah angkat Konita.
Pria paruh baya itu mengenakan jaket kain parasut yang pudar dan basah kuyup. Tangan kasarnya yang selalu berlumur sisa oli bengkel tampak gemetar hebat saat melepas jaket parasutnya dan mencengkeram topi pet kusam di depan dada.
"Nak Ezra!" panggil Luqman, suaranya pecah dan sarat akan kepanikan.
Melihat kedatangan laki-laki itu, Ezra langsung berdiri. Tanpa ragu, pria berwibawa yang biasanya sangat menjaga jarak dengan siapapun bergegas melangkah maju dan merengkuh tubuh ringkih Luqman ke dalam pelukan, setelah pria tua itu meletakkan jaketnya di atas kursi.
"Pak Luqman... maafkan saya. Saya gagal menahannya," bisik Ezra, menekan rahangnya ke bahu Luqman. Suaranya terdengar serak, bahkan nyaris habis.
Luqman membalas pelukan Ezra dengan cengkeraman putus asa pada kemeja pria itu. Pertahanan montir berusia 55 tahun itu langsung hancur seketika. Tangisannya meledak, keras dan memilukan, menggema di lorong steril rumah sakit.
"Bagaimana putriku, Nak? Apa kata dokter? Katakan padaku… apa Nita baik-baik saja?" Luqman tergugu, tubuhnya merosot jika saja Ezra tidak menahan kedua lengannya dengan kuat.
"Konita mengalami henti jantung setelah mendonorkan darahnya, Pak…. alhamdulilah tim dokter sudah berhasil menstabilkan detaknya. Saat ini dia masih koma di dalam sana," jawab Ezra sambil menunjuk ke ruang ICU, berusaha mempertahankan nada bicaranya agar tidak ikut hancur.
Ditatapnya kedua bola mata Luqman yang merah dan bengkak. "Tapi tim dokter belum bisa memprediksi kapan Nita akan sadar. Otaknya sempat kekurangan pasokan oksigen."
Mendengar ucapan Ezra, Luqman segera memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangannya yang kasar. "Ini salahku! Ini hukuman untukku! Tuhan pasti menghukumku karena aku pengecut!"
"Bapak bicara apa? Ini bukan salah Bapak." Ezra segera menahan tangan Luqman, memaksanya berhenti menyakiti diri sendiri.
"Aku yang salah, Nak Ezra!" raung Luqman, air mata mengalir deras melewati kerutan-kerutan lelah di wajahnya yang mulai keriput.
"Selama dua puluh lima tahun aku menyembunyikan identitas ibunya. Aku tahu kalau Nita membenciku saat tahu bahwa Isvara, saudari jauhku yang gila harta itu, adalah ibu kandungnya,” ujar Luqman kesal.
“Aku biarkan Nita hidup dalam kebohongan karena aku takut... aku takut Isvara akan merebut Nita dariku jika dia butuh sesuatu dan ketakutanku terbukti malam ini!"
Ezra terdiam, dadanya ikut sesak mendengar pengakuan jujur pria paruh baya yang sangat dia hormati. Selama ini, Luqman adalah sosok pendiam yang selalu mengalah, pria yang rela makan nasi dengan garam asal Konita bisa sekolah di sekolah kuliner terbaik yang dia inginkan.
"Bapak nggak gagal…. Bapak adalah ayah terbaik yang pernah Konita miliki," ucap Ezra tegas, menatap lurus ke dalam mata Luqman. "Nyonya Isvara yang menghancurkan segalanya, bukan Bapak."
"Benar…. Isvara…. perempuan itu." Luqman tiba-tiba menghentikan tangisnya. Tatapannya kosong, rahangnya pun mulai menegang. "Di mana perempuan itu? Di mana perempuan yang sudah membunuh putriku demi anak dari suami kaya rayanya?!"
"Pak Luqman, tolong tenangkan diri Anda…."