Tujuh hari berlalu seperti distorsi ruang dan waktu bagi Ezra Yogaswara. Di dalam kamar rawat inap VVIP yang dindingnya dilapisi panel kayu oak yang hangat, kesunyian terasa mendominasi.
Cahaya matahari sore dari balik tirai otomatis menembus masuk, menyinari ranjang pasien canggih yang berada di tengah ruangan. Di dalam kamar pemulihan VVIP yang tenang, aroma obat-obatan dan desinfektan terasa begitu mencekik.
Tirai tebal berwarna abu-abu itu dibiarkan setengah terbuka, membiarkan cahaya matahari sore Jakarta masuk menyinari ruangan luas yang bernuansa kayu oak.
Di atas ranjang otomatis, kelopak mata Konita tampak bergetar. Sensasi pertama yang dia rasakan adalah rasa kering yang menyiksa di kerongkongan, disusul oleh nyeri tumpul yang menyebar dari punggung hingga ke seluruh persendiannya.
Konita mengerang tertahan, memaksakan matanya untuk terbuka, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang berpendar lembut di langit-langit kamar.
Hal pertama yang dia rasakan adalah lidahnya yang terasa sekering amplas, lalu rasa ngilu yang luar biasa di punggung bawahnya, disusul oleh denyutan berat di kepala.
Penglihatannya masih terlihat buram, beradaptasi dengan cahaya lampu plafon. Telinganya menangkap bunyi stabil dari monitor detak jantung yang berada di sebelahnya.
Konita menggerakkan jemari kanannya sedikit, dan merasakan beban hangat yang menindihnya. Gadis itu menoleh dengan susah payah.
Dilihatnya Ezra tertidur di kursi samping ranjang. Kepala pria itu bertumpu pada lengan Konita yang tidak diinfus, sementara kedua tangannya menggenggam erat telapak tangan Konita seolah takut wanita itu akan menghilang.
Arsitek tampan yang selalu tampil tanpa cela, kini terlihat berantakan. Rambutnya acak-acakan, bayangan janggut kasar menghiasi rahangnya.
"Mas Ezra..." panggil Konita lirih, tapi yang terdengar hanyalah gesekan udara yang parau dan menyakitkan tenggorokan.
Namun, seserak apapun panggilan itu, Ezra langsung tersentak bangun. Gerakan refleksnya begitu cepat hingga kursi yang dia duduki terdorong ke belakang bergesekan dengan lantai. Mata Ezra membelalak, napasnya memburu menatap wajah Konita yang masih pucat.
"Nita? Masyaallah… akhirnya kamu bangun juga, Sayang…. alhamdulillah.” Ezra mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya gemetar saat mengusap dahi Konita dengan lembut, kedua bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Haus..." bisik Konita lirih, suaranya nyaris seperti gesekan amplas.
"Tunggu, aku ambilkan…. pelan-pelan." Ezra buru-buru mengambil gelas kaca berisi air putih dan sedotan fleksibel dari atas nakas. Disodorkan ujung sedotan itu ke bibir Konita dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa lega yang membuncah.