Kening Ezra berkerut dalam. "Ta, kalau kamu memang maksa keluar, aku akan bawa kamu ke rumah Sentul seperti kemarin. Di sana ada staff yang bisa menjagamu 24 jam, sementara rumah Ayahmu yang berada di pinggiran kota itu kecil, sirkulasi udaranya juga buruk, dan Ayahmu juga harus bekerja seharian. Siapa yang nanti akan ngurus kamu?"
"Ayah yang akan mengurusku," jawab Konita cepat, ego dan kemandiriannya meradang begitu mendengar nada yang cukup merendahkan dari bibir sang kekasih, "selama ini aku dibesarkan di rumah sempit itu, Mas….” lanjutnya tegas.
“Dan aku sehat, bahkan aku bisa menjadi seorang chef, semuanya dari rumah kumuh di pinggiran kota itu. Aku nggak mau pulang ke rumahmu yang di Sentul!"
"Ini bukan soal gengsi atau masa lalumu, Konita! Ini soal medis!" balas Ezra, amarahnya mulai terpancing.
Pria itu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut pusing. "Tubuhmu hancur…. kamu butuh nutrisi, ranjang khusus, dan lingkungan yang steril. Kamu nggak bisa istirahat di atas ranjang kayu yang di bawahnya penuh bau oli mesin!"
"Lalu apa bedanya aku dengan Nyonya Isvara?!" serang Konita, suaranya sedikit meninggi hingga terbatuk pelan, “kalau aku menolak pulang ke rumah ayahku hanya karena tempat itu kumuh dan miskin, lalu memilih kenyamanan mewah dari uangmu, apa bedanya aku dengan perempuan yang membuangku karena harta?!"
"Kamu bukan Isvara! Kenapa kamu selalu bawa-bawa nama perempuan itu dalam setiap argumen kita?" Ezra menatap frustasi ke arah kekasihnya. Pria itu paling tidak suka saat bayang-bayang Isvara selalu merusak rasionalitas Konita.
"Aku kekasihmu, Konita…. tunanganmu, calon suamimu dan sudah menjadi tugasku untuk memastikan kamu mendapatkan perawatan yang terbaik, rumahku adalah rumahmu juga."
"Rumahku adalah rumah Pak Luqman Taher," putus Konita tidak terbantahkan sambil membuang muka ke arah jendela, "kamu nggak ngerti, Mas!" Konita sedikit meninggikan suaranya sambil menoleh kembali, menatap ke arah Ezra, membuat mesin monitor jantung yang berada di sebelahnya berdetak lebih cepat.
"Aku telah kehilangan diriku sendiri! Beberapa hari yang lalu aku masih mengira kalau aku ini anak Luqman Taher, tiba-tiba aku tahu kalau aku hanya seorang anak haram dari seorang selebriti yang bahkan nggak tahu siapa ayah kandungku. Aku diseret ke dunia mewah, diminta menyumbang sumsum, dituntut mendonorkan darah... aku muak!"
Ezra terdiam, terpaku melihat kemarahan dan keputusasaan yang bercampur di wajah kekasihnya.
"Aku butuh Ayah, Mas…" suara Konita menurun, berubah menjadi rintihan yang sangat menyayat hati, "hanya di rumah berbau oli itu aku tahu siapa diriku. Di sana aku bisa menjadi Konita Reveena yang sebenarnya, anak perempuan Luqman Taher yang keras kepala dan suka masak, bukan anak buangan Isvara Jennitra…. jadi aku mohon, tolong bawa aku pulang ke rumahku yang sebenarnya, Mas."
Melihat air mata yang mengalir di pipi pucat Konita, Ezra hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa luka batin wanita itu jauh lebih parah daripada luka fisiknya. Pergulatan batin Konita dalam mencari identitasnya telah menguras habis jiwa sang kekasih.
"Baiklah," desah Ezra akhirnya. Pria itu mengalah karena berdebat dengan Konita yang sedang sakit tidak akan ada ujungnya. Pria itu lalu mengangguk pelan, menghapus air mata di pipi Konita dengan ibu jarinya.
"Baiklah…. kita pulang ke rumah Ayahmu besok. Aku akan mengurus administrasinya dan minta dokter agar mengijinkan kamu untuk pulang, tapi aku akan menyulap satu kamar di rumah kumuh itu menjadi standar medis. Aku nggak mau menerima penolakan untuk hal ini, Konita. Keselamatanmu adalah hal yang sangat mutlak buatku."