Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #32

Surat Sang Adik

Kedua bola mata Shiela masih berkabut, kedua bola matanya tampak berkaca-kaca, air mata mulai membasahi pipinya yang sedikit chubby

"Kak Freya..." panggil Shiela dengan suara bergetar, tanpa menoleh, “aku minta kertas dan bolpoin."

"Untuk apa, Shiela?" tanya Freya bingung sambil melangkah mendekat, menghampiri ibu dan anak itu lalu membuka tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan dan bolpoin.

"Ambilkan saja!" bentak Shiela sambil menyeka air matanya dengan kasar, "lalu carikan suster yang bertugas di lantai ICU. Aku mau mengirim sesuatu!"

Satu jam kemudian, di kamar ICU yang senyap, Ezra baru saja selesai merapikan meja makan lipat di atas ranjang Konita. Wanita itu hanya memakan tiga suap bubur hambar sebelum menolak untuk membuka mulutnya lagi.

"Kamu harus makan lebih banyak, Ta…. tensi darahmu masih terlalu rendah," tegur Ezra tegas sambil meletakkan gelas air putih di atas nakas.

"Lidahku pahit, Mas…. dan bau bubur rumah sakit ini membuatku mual," keluh Konita keras kepala sambil menyandarkan kepalanya ke tumpukan bantal. Wajahnya masih sangat pucat, dan kantung matanya pun terlihat jelas.

"Lalu kamu mau makan apa? Bilang saja…. aku akan nyari koki terbaik di Jakarta untuk membuatkannya untuk kamu, asal kamu mau menghabiskannya," tawar Ezra cepat sambil duduk kembali di kursi yang ada di samping ranjang.

Sebelum Konita sempat membantah, pintu kamar terdengar diketuk perlahan. Seorang perawat muda masuk dengan langkah ragu-ragu, membawa selembar kertas robekan dari buku catatan spiral.

"Maaf, Pak Ezra, Mbak Konita… ini ada titipan untuk Mbak Konita," ucap perawat itu sambil mengulurkan kertas yang terlipat sangat rapi dan presisi.

Ezra menatap kertas itu dengan rasa curiga. "Dari siapa?"

"Dari... pasien atas nama Shiela Renjani yang ada di lantai VVIP, Pak."

Lihat selengkapnya