Satu minggu kemudian setelah malam yang hampir merenggut nyawanya dan setelah berdebat dengan sang dokter yang menolak kepulangannya karena Konita meminta pulang seminggu yang lalu akhirnya gadis itu diizinkan pulang.
Namun, alih-alih beristirahat di ranjang yang mahal yang berada di rumah mewah milik Ezra di Sentul, Konita memaksakan diri kembali ke rumah kecil Luqman Taher, ayah angkatnya di pinggiran kota Jakarta.
Suasana sore itu terasa pengap. Konita tampak duduk bersandar di atas ranjang besi tuanya, menatap ke sekeliling ruangan dengan perasaan yang campur aduk.
Bau oli bekas, asap knalpot, dan suara bising mesin yang beradu dengan deru kipas angin tua menguar di sudut kamar yang berukuran tiga kali tiga meter tersebut.
Tepat pada saat itu pintu kamarnya terdengar berderit dan terbuka. Luqman masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan kayu yang berisi semangkuk sup ayam dan segelas teh hangat.
Pria paruh baya itu masih mengenakan wearpack bengkelnya yang kotor. Wajahnya dipenuhi peluh. Namun, senyum tulus mengembang saat melihat putri angkatnya.
"Makan dulu, Nduk. Ayah sudah belikan dada ayam segar di pasar tadi pagi," ucap Luqman dengan suaranya yang serak, lalu meletakkan nampan kayu itu di atas meja kecil yang ada di samping ranjang.
Konita menatap mangkuk sup tersebut. Porsinya terlihat cukup banyak, tapi kuahnya sangat bening, nyaris tanpa bumbu yang mahal, dan potongan sayurnya juga sedikit layu. Ditatapnya wajah Luqman yang terlihat jauh lebih tua dan kelelahan.
"Ayah sudah makan?" tanya Konita, suaranya masih sedikit parau akibat bekas jahitan robekan di lehernya saat jantungnya terhenti sesaat.
"Sudah, Ayah sudah makan… makanlah, Ayah buat sup ayam ini khusus buat kamu," dusta Luqman lancar, menghindari tatapan mata Konita dan sibuk merapikan selimut tipis di kaki wanita itu, "habiskan ya... biar tensimu cepat naik."
Konita menahan tangan kasar Luqman yang dipenuhi kapalan dan bekas luka hitam. "Ayah bohong… tadi Nita lihat Ayah mengeluarkan uang dari toples di ruang depan, uang itu buat beli ayam ini, ‘kan? Uang tabungan Ayah habis? Kenapa nggak bilang, Nita masih punya uang."
Luqman hanya bisa terdiam kaku. Pria paruh baya itu segera menarik tangannya perlahan. "Kamu jangan mikir macam-macam, Ta…. tugasmu itu cuma sembuh. Urusan uang, insyaallah… Ayah masih sanggup nyari."
"Iya... Ayah memang bisa nyari uang, tapi bengkel tutup selama seminggu saat Ayah jaga Nita di rumah sakit." Dada Konita mulai terasa sesak oleh rasa bersalah yang menghimpit. "Obat-obatan pasca operasi yang harus Nita minum ini nggak ditanggung sama asuransi, Yah… lalu Ayah bayar pakai apa?"
"Semua sudah dibayar lunas sama Ezra, Ta... tapi Ayah janji nanti kalau bengkel ramai lagi, Ayah akan melunasinya," jawab Luqman sambil memaksakan tawa yang terdengar sangat hampa, "sudah, jangan bawel…. ayoo, dimakan supnya, coba dicicipi, kurang rasa apa?"
Sebelum Konita bisa mendebat lebih jauh, suara deru mesin mobil yang halus dan elegan mengalahkan kebisingan bengkel di depan. Beberapa detik kemudian, sosok tinggi tegap Ezra Yogaswara muncul di ambang pintu kamar yang sempit. Setelan jas navy yang pas di tubuh atletisnya terlihat salah tempat di tengah ruangan berdinding cat yang mengelupas ini.