Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #34

Melepas Bintang, Memeluk Debu

Satu bulan pun berlalu sejak pertengkaran hebat di kamar sempit itu. Kondisi fisik Konita mulai berangsur pulih, meski luka sayatan di punggung bawahnya masih sering berdenyut jika dia berdiri terlalu lama. 

Namun, ketenangan yang dia cari di rumah Luqman Taher mulai hancur berantakan ketika sebuah media gosip kembali merilis berita tentang identitasnya. 

Setiap pagi, wartawan infotainment tampak mengepung bengkel Luqman, memburu anak haram Isvara Jennitra yang mendonorkan darahnya secara heroik untuk adik tirinya. Media massa terlihat sangat lapar akan drama. 

Demi melindungi ayah angkatnya dan menghindari sorotan yang memuakkan, Konita memilih pergi dari rumah setiap subuh dan pulang larut malam, mencoba mencari kerja. 

Malam ini, di bawah terpal oranye yang berdebu di pinggir jalan raya, Konita tampak berdiri di depan wajan raksasa berisi minyak yang mendidih. Asap tebal bercampur aroma terasi dan lele goreng menguar ke udara, menempel di kaus hitamnya. 

Untuk menutupi wajahnya, Konita mengenakan sebuah topi baseball hitam dan masker medis yang menutupi sebagian besar wajahnya. Dia bukan lagi Chef eksekutif restoran ternama, tapi hanya pelayan warung tenda pecel lele milik Bang Tarjo.

"Nita, lele goreng dua, ayam goreng satu! Meja nomor empat agak cepat, pelanggan sudah ngomel!" teriak Bang Tarjo, pria paruh baya bertubuh tambun yang sedang sibuk mengulek sambal di sudut meja kayu. 

"Siap, Bang! Tiga menit lagi ayamnya matang!" balas Konita dengan suara lantang. 

Tangannya yang dulu terbiasa menggunakan pinset plating untuk menata daun thyme di atas daging wagyu A5, kini dengan cekatan membolak-balik potongan ayam di dalam wajan yang berada di atas panggangan arang yang menyengat wajahnya. 

Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipis. Saat membungkuk untuk mengambil piring seng, rasa ngilu yang tajam menusuk tulang belakangnya. Konita meringis tertahan, menggigit bibir di balik maskernya, lalu kembali tegak secara paksa.

"Kamu pucat sekali, Nit. Istirahat dulu di belakang sana. Duduk di kursi plastik yang ada di belakang. Biar ayamnya saya yang teruskan," tegur Tarjo yang menyadari gerakan kaku karyawannya itu. 

Pria paruh baya itu menatap khawatir. "Kamu itu baru kerja dua minggu di sini, tapi kerjamu ngotot seperti orang dikejar utang."

"Saya nggak apa-apa, Bang Tarjo…. cuma kepanasan sedikit," jawab Konita cepat sambil memindahkan ayam goreng yang sudah menguarkan aroma lezat ke atas piring, "kalau saya duduk, nanti upah harian saya dipotong. Saya butuh uangnya penuh malam ini, Bang."

"Ya Gusti, Nita…. saya ini bukan rentenir yang tega motong gaji orang sakit." Tarjo mengusap wajahnya yang penuh peluh dengan handuk kecil di lehernya, "kamu ini sebenarnya lari dari siapa, toh? Kamu itu cantik loh, bersih, gaya bicaramu juga sopan, rapi, nggak pantas kerja di warung debu kayak gini. Apa suamimu mukuli kamu di rumah?"

Lihat selengkapnya