Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #35

Amarah Sang Arsitek

Suara gemuruh, pertanda hujan akan segera tiba terdengar menggelegar di kejauhan, disusul rintik hujan yang mulai menghantam terpal oranye warung tenda pecel lele. 

Ezra segera menarik lengan Konita dengan kasar, memaksa wanita itu agar berdiri tegak, berhadapan dengannya. Ditatapnya seluruh tubuh perempuan yang berdiri di depannya dari atas hingga bawah, mulai dari topi, masker medis yang berbau asap, celemek kotor, hingga lutut celana jeans yang bernoda lumpur. 

Pria itu yakin betul kalau gadis yang ada di depannya ini adalah kekasih yang dicarinya sejak pagi tadi, karena berdasarkan informasi yang dia dapatkan, salah satu informan Ezra akhirnya menemukan Konita di warung tenda pecel lele itu.

"Lepaskan aku, Mas Ezra!" desis Konita lirih sambil berusaha memberontak sekuat tenaga, mencoba melepaskan cengkraman pria itu, "kamu menyakiti lenganku!" bisiknya lirih sambil menatap ke beberapa pelanggan yang melirik ke arah mereka sambil berbisik-bisik.

"Sakit?" Suara bariton Ezra merendah, sangat dingin hingga menembus bisingnya hujan, "apa rasa sakit di lenganmu ini sebanding dengan rasa sakit di kepalaku saat mencari gadis yang keras kepala yang lebih memilih jadi pelayan jalanan setelah nyaris mati sebulan yang lalu?!"

Beberapa pelanggan mulai berdiri, mereka merasa terganggu sekaligus penasaran dengan pria borjuis yang tiba-tiba masuk ke warung kumuh tersebut. Bang Tarjo, pemilik warung memberanikan diri untuk maju, menepuk pelan bahu Ezra.

"Maaf, Mas…. Mas ini siapa? Kalau mau bikin keributan, jangan di warung saya. Karyawan saya sedang sakit," tegur Tarjo dengan nada mengusir.

Ezra menoleh ke arah Tarjo dengan tatapannya yang tajam. Tangan kanannya merogoh saku celana, mengeluarkan dompet kulit tebal, lalu menarik setumpuk uang ratusan ribu tanpa menghitungnya, kemudian diletakkannya uang itu di atas meja kasir.

"Ini untuk mengganti seluruh daganganmu, dan gaji karyawanmu ini selama sebulan penuh," ucap Ezra tegas, suaranya sarat akan otoritas yang absolut, "mulai hari ini karyawanmu tidak kerja di warungmu lagi dan jangan pernah berani mempekerjakan tunanganku lagi."

Mata Tarjo membelalak melihat tumpukan uang merah yang nilainya jutaan rupiah. Pelanggan yang berada di sana pun hanya terdiam kaku. 

"Mas Ezra! Kamu nggak berhak melakukan ini!" teriak Konita dari balik masker, wajahnya memerah karena malu dan marah yang luar biasa. Ditariknya celemek yang dia kenakan dengan kasar lalu diletakkannya di atas kursi, "Kamu mempermalukan aku, Mas!"

"Kamu yang mempermalukan dirimu sendiri, Konita!" balas Ezra dengan bentakan yang cukup keras, lalu mencengkram pergelangan tangan wanita itu dan menariknya paksa keluar dari warung tenda. Semua orang yang berada di warung tenda itu hanya terdiam dan tidak ikut campur. 

Diluar warung tenda, hujan mulai turun dengan deras, mobil SUV Range Rover hitam milik Ezra tampak terparkir sembarangan di pinggir jalan yang mulai banjir. Dua pengawal berpakaian preman tampak berjaga di dekat mobil. 

Air hujan seketika membasahi tubuh mereka berdua saat tiba di luar warung tenda. Kemeja sutra mahal Ezra terlihat menempel di tubuh atletisnya, sementara Konita menggigil kedinginan saat air dingin menusuk luka di punggungnya.

"Masuk ke dalam mobil…. sekarang!" perintah Ezra sambil membuka pintu penumpang bagian belakang dengan kasar saat mereka sudah berada di samping mobil.

"Nggak mau!" Konita menghentakkan tangannya sekuat tenaga hingga terlepas dari cengkraman Ezra. 

Lihat selengkapnya