Suara desisan minyak panas yang beradu dengan daging ikan lele yang segar menjadi satu-satunya melodi yang menenangkan pikiran Konita malam ini.
Asap putih tampak mengepul di atas wajan, membawa aroma tajam dari bawang putih cincang, ketumbar, dan kunyit yang menguar malam itu. Gadis itu mengenakan kaos hitam polos dan celemek pudar peninggalan pekerja sebelumnya.
Di bawah terpal berwarna oranye kusam yang membentang di pinggiran jalan, Konita tampak berdiri tegak, dunianya yang sempat runtuh telah kembali ke pelukkannya.
Satu minggu telah berlalu sejak pertengkarannya dengan Ezra di warung tenda tersebut. Selama satu minggu itu pula Ezra tidak pernah menghubunginya, datang ke warung tenda itu pun tidak. Konita hanya bisa pasrah bila nanti Ezra memutuskan hubungan mereka.
"Konita, sambal terasinya jangan lupa ditaburi perasan jeruk limau. Pelanggan meja tiga dari tadi melongok terus ke mari," tegur Bang Tarjo, si pemilik warung yang akhirnya menerima Konita kembali bekerja di warungnya.
Pria paruh baya yang bertubuh tambun itu tampak sibuk mengipasi ayam bakar di ujung gerobak, keringat sebesar biji jagung mengalir di pelipis. Namun, senyum ramah tidak pernah lepas dari wajahnya, sementara pegawai yang lain terlihat sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
Sedangkan Konita sedang membalik ikan lele di dalam wajan dengan gerakan cekatan yang luar biasa efisien, sisa-sisa kebiasaan dari dapur resto L'Étoile tempatnya dulu bertahta.
"Sudah, Bang…. aku juga sudah menambahkan sedikit daun kemangi yang disangrai ke dalam ulekannya. Abang bilang ingin membuat warung ini lebih ramai, ‘kan?” sahut Konita lantang.
“Aroma kemangi yang disangrai akan membuat rasa sambalnya naik dua tingkat lebih segar, Bang," lanjutnya sambil memindahkan ikan lele yang telah berwarna keemasan sempurna ke atas piring rotan yang berlapis daun pisang.
Bang Tarjo terkekeh pelan, meletakkan kipas anyamannya sejenak, meminta salah satu pegawainya untuk melanjutkan mengipasi ayam bakar, lalu menatap ke arah Konita.
"Bukan main memang cewek yang satu ini. Baru seminggu kerja di sini, omzet Abang naik drastis. Pelanggan pada bilang sambalnya beda. Ayam bakarnya juga lebih empuk. Abang sampai heran, kamu ini belajar masak di mana? Potongan sayur kol sama timun aja ditata rapi macam di restoran mahal."
Tangan Konita yang sedang menata irisan timun di atas piring mendadak berhenti. Ada rasa nyeri yang tidak kasat mata menusuk dadanya saat kata 'restoran mahal' melintas di telinga. Namun, dengan cepat disembunyikan ekspresi itu di balik senyum tipisnya.
"Aku cuma sering bantu-bantu masak di rumah, Bang. Dulu… nenekku yang ngajari aku masak, sejak kecil aku udah sering diajak ke dapur sama almarhum Nenek, beliau suka masakan yang bumbunya berani," jawab Konita lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru knalpot motor yang melintas di jalan raya.
Bang Tarjo menghela napas panjang, mengelap tangannya pada serbet yang nyampir di bahu, lalu berjalan mendekat, menatap ke arah Konita yang kembali sibuk menata lalapan di atas piring. Tatapan Bang Tarjo seperti menyelidik. Namun, memancarkan simpati.
"Abang ini memang cuma tamatan SMA, tapi Abang tahu orang yang lagi lari dari masalah, karena kalo Abang lihat dari penampilan kamu yang bersih, tutur katamu yang halus, sopan… kayaknya kamu lagi lari dari masalah.”
Bang Tarjo menghentikan ucapannya dan menghela napas panjang, sementara Konita berusaha mengabaikan ucapan boss-nya itu.