Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #37

Lensa yang Menemukanmu

Tujuh hari pun berlalu sejak malam itu. Warung tenda Bang Tarjo kini tidak lagi seperti warung pecel lele pada umumnya. Antrean pengunjung tampak berjejer hingga ke trotoar jalan. Kursi plastik murahan tidak lagi cukup menampung pelanggan.

"Nita! Meja lima minta tambah ayam goreng dua porsi! Sambalnya dipisah ya!" teriak Bang Tarjo dengan napas tersengal. Pria itu tampak kewalahan melayani pelanggan yang tidak henti-hentinya berdatangan sejak magrib.

"Siap, Bang! Ayam goreng masuk, butuh tujuh menit!" seru Konita balik. Suaranya lantang dan tegas, mendominasi area dapur kecil itu layaknya seorang jenderal di medan perang.

Keringat membasahi dahi dan lehernya, anak-anak rambutnya pun menempel ke kulit. Namun, Konita tidak peduli. Gadis itu terus bergerak, satu tangannya membalik potongan ayam di wajan raksasa, sementara tangan lainnya menaburkan bumbu rahasia di atas sayuran segar. 

Di warung tenda ini, Konita merasa hidup, dia bukan anak haram Isvara Jennitra, bukan juga bahan gunjingan media nasional. Konita hanya seorang koki yang suka masak.

Di sudut warung yang agak terang, seorang pria muda berpenampilan nyentrik dengan kacamata berbingkai merah tengah duduk menghadapi sepiring lele goreng, lalapan dan nasi uduk. 

Di depannya berdiri sebuah tripod kecil dengan ponsel pintar kelas atas yang lampunya menyala terang, merekam setiap gerakannya. Pria itu adalah Kevin, seorang food vlogger dengan jutaan pengikut di media sosial yang gemar berburu makanan tersembunyi di Jakarta.

"Bisa kalian lihat sendiri, Guys!" ujar Kevin sambil ngomong di depan kamera ponsel dengan nada antusias yang berlebihan sambil mencelupkan potongan daging lele ke dalam cobek kecil yang berisi sambal. 

"Jujur… ini warung tenda yang paling mind-blowing yang pernah gue datengin bulan ini. Kalian lihat plating-nya? Potongan kol dan timunnya presisi banget, nggak asal potong dan sambalnya..."

Kevin memasukkan makanan itu ke dalam mulut, lalu memejamkan mata dengan dramatis, seolah-olah sedang merasakan masakan tersebut.

"Gila! Ada hint daun kemangi yang di-roast dengan sempurna, lalu balance asam dari jeruk limaunya ini sungguh sangat luar biasa. Ini sih namanya warung kaki lima, tapi rasa bintang lima, rasanya seperti makanan di restoran fine dining!"

Kevin segera menyambar mikrofon kecil di kerahnya, lalu menatap tajam ke arah kamera. "Gue harus tahu siapa mastermind di balik makanan ini. Ayo guys! Ikutin gue."

Tanpa mempedulikan tatapan heran pelanggan lain, Kevin bergegas mengangkat tripodnya dan berjalan mendekati area gerobak tempat Bang Tarjo dan Konita bekerja. Cahaya ring light dari ponsel Kevin langsung menyorot ke wajah Bang Tarjo yang sedang mengipasi ayam.

"Halo, Pak! Boleh wawancara sebentar buat followers saya?" sapa Kevin dengan kedua bola matanya yang berbinar terang. "Makanannya enak banget, Pak! Bapak yang buat sambalnya?"

Bang Tarjo terkejut hingga kipasnya nyaris jatuh. Ditutupi matanya yang silau. "Aduh, Mas…. jangan disorot-sorot begini. Saya cuma bagian bakar ayam. Yang racik bumbu dan masak semuanya itu Neng di sebelah saya ini."

Lihat selengkapnya