Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #38

Kepungan Lampu Kilat

Tiba-tiba, suara dering telepon seluler memecah tangisannya. Nama 'Ezra' berkedip di layar ponsel yang tergeletak di atas kasur. Konita menatap layar itu dengan tatapan ragu. 

Dengan tangan gemetar, digesernya tombol hijau dan menempelkan benda pipih warna hitam itu ke telinga.

"Halo..." suara Konita parau.

"Konita, dengarkan aku baik-baik," suara bariton Ezra terdengar sangat tajam di ujung sana, penuh otoritas. Namun, ada nada kepanikan yang berusaha keras disembunyikannya, "kunci pintumu dari dalam. Jangan keluar walau sejengkal."

"Mas Ezra, apa yang…."

"Videomu yang masak di warung tenda meledak, viral di medsos, Ta. Awak media baru saja melacak plat nomor motor Bang Tarjo dan menemukan alamat kosmu. Mereka sedang menuju ke tempatmu sekarang. Jangan buka pintu untuk siapapun, mengerti?!" perintah Ezra mutlak. 

Suara klakson mobil terdengar bising di seberang telepon, menandakan pria itu sedang mengemudi dengan kecepatan gila-gilaan. "Aku sedang menuju ke sana. Sepuluh menit lagi aku sampai. Berkemaslah, kamu nggak aman di sana."

Sebelum Konita sempat menjawab, sambungan terputus. Jantung Konita berpacu dengan gila. Diliriknya ke arah jendela kamar kosnya.

Sayup-sayup, dari kejauhan, terdengar suara yang riuh rendah, seperti suara kendaraan yang menepi dan langkah kaki yang tergesa-gesa, suara orang-orang yang kelaparan akan kehancurannya.

***

Udara sore Jakarta terasa lebih mencekik dari biasanya. Langit mendung di atas jalan seolah siap memuntahkan badai. Namun, badai yang sesungguhnya telah lebih dulu menghantam daratan. 

Konita mengabaikan perintah Ezra untuk tetap bersembunyi di dalam kamar kosnya. Bagaimana bisa dia bersembunyi ketika lima menit setelah telepon Ezra ditutup, Bang Tarjo mengiriminya pesan suara sambil menangis panik? Warung tendanya dihancurkan oleh serbuan wartawan yang mencari Konita.

Tanpa ragu, bergegas Konita keluar dari kamar kosnya, menuju ke warung tenda Bang Tarjo. Saat tiba di sana, gadis itu berusaha menghalau awak media yang menyerang warung tenda Bang Tarjo.

Namun, dia malah terjepit di antara gerobak kayu yang kacanya telah retak dan kerumunan manusia yang beringas. Puluhan lensa kamera langsung mengarah padanya bagai moncong senapan, disusul kilatan lampu blitz yang menyilaukan mata dan membuat kepalanya pening.

"Mbak Konita! Tolong klarifikasi soal video viral itu! Apa benar Anda dipecat dari L'Étoile karena skandal ibu kandung Anda, Isvara Jennitra?" teriak seorang reporter pria sambil mendorong mikrofonnya hingga nyaris membentur dagu Konita.

"Apa benar Isvara Jennitra membuang Anda lagi setelah mengambil sumsum tulang belakang Anda? Tolong jawab, Mbak!" sahut reporter wanita dari stasiun televisi yang lain, suaranya terdengar melengking, menembus kebisingan klakson jalan raya yang macet total akibat kerumunan ini.

Konita mengangkat kedua tangannya, berusaha melindungi wajahnya dari sorotan kamera. Tubuhnya terdorong ke belakang hingga punggungnya menabrak tiang besi penyangga terpal.

"Tolong... saya mohon, mundur sedikit. Kalian merusak tempat usaha orang lain!" seru Konita dengan suara yang bergetar. Matanya melirik nanar ke arah meja dan kursi plastik yang berserakan di aspal.

Bang Tarjo tampak duduk meringkuk di sudut, memeluk toples kerupuknya dengan wajah yang pucat pasi, pegawai yang lain juga tampak berdiri pasrah.

Lihat selengkapnya