Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #39

Penebusan Dosa

Di dalam rumah mewah kawasan elite Jakarta yang didominasi marmer putih dari Italia dan lampu gantung kristal, suasana terasa seperti kuburan. 

Layar televisi raksasa berukuran 85 inci yang terletak di ruang tengah tampak menyala tanpa suara, menampilkan berita breaking news. Visual di layar itu memperlihatkan kekacauan di warung tenda pinggir jalan saat Konita, putri kandungnya, didesak, diteriaki, dan dihakimi oleh massa, sebelum akhirnya seorang pria membawanya pergi.

Isvara Jennitra hanya bisa terdiam dan terduduk kaku di atas sofa beludru warna merah maroon. Aktris legendaris yang wajahnya selalu memancarkan kecantikan glamor itu kini tampak layu.

Wajahnya tampak pucat pasi, tulang pipinya menonjol, dan tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya. Masa pemulihan pasca operasi transplantasi sumsum tulang belakang dari penyakit thalasemia belum sepenuhnya selesai. Namun, luka fisiknya tidak sebanding dengan luka yang kini menggerogoti nuraninya.

"Bu Isvara," panggilan lembut itu memecah keheningan. Freya Maharani, asisten pribadinya yang setia, melangkah mendekat sambil membawa sebuah nampan perak berisi segelas air hangat dan beberapa butir pil. 

"Waktunya minum obat penekan imun, Bu. Dokter pesan ibu nggak boleh banyak pikiran agar sumsum tulang belakang yang baru tidak mengalami penolakan."

Isvara tidak menoleh, kedua bola matanya tetap terpaku pada layar televisi yang mengulang-ulang adegan Konita yang menangis ketakutan di depan kamera jurnalis. Setetes air mata pun jatuh dari ujung pelupuk mata Isvara, merusak sapuan tipis riasan di pipinya.

"Obat apa yang bisa menyembuhkan rasa bersalah, Freya?" suara Isvara terdengar parau dan rapuh sambil menyentuh dadanya yang terasa nyeri, "kamu lihat itu? Kamu lihat bagaimana dunia menghancurkan anakku? Dan semua itu bermula dari rahimku."

Freya meletakkan nampan di atas meja kaca, lalu duduk berlutut di samping sofa Isvara. Dipegangnya tangan sang majikan yang terasa sedingin es. 

"Kita nggak bermaksud membuat media memburunya. Semua ini karena oknum rumah sakit yang membocorkan data itu, untung saja orangnya sudah tertangkap dan publik hanya mencari bahan gosip. Semua ini di luar kendali kita, Bu," ucap Freya dengan nada menenangkan, mengelus punggung tangan Isvara yang sedingin es. 

"Bu Isvara harus fokus pada kesehatan ibu sendiri sekarang, kalau ibu drop lagi, semua pengorbanan Konita akan sia-sia."

"Nggak, Freya." Isvara menarik tangannya perlahan. Mata cantiknya yang biasa memancarkan arogansi dan kebanggaan seorang bintang papan atas, kini meredup, hancur oleh penyesalan yang menggerogoti kewarasannya.

Ditatapnya si asisten dengan tatapan nanar. "Semua ini sepenuhnya adalah salahku, bukan salah rumah sakit ataupun media. Dua puluh lima tahun yang lalu, aku dengan sadar menyerahkan bayi merah yang tidak berdosa itu ke Luqman Taher dan almarhum istrinya, Widya.” 

Ucapannya berhenti di udara, perempuan itu lalu menghela napas panjang.

“Aku membuangnya demi karir, demi piala-piala sialan yang sekarang hanya menjadi pajangan berdebu di lemari kaca itu." Isvara menunjuk ke deretan piala penghargaan yang terletak di sudut ruangan dengan jari gemetar, suaranya naik satu oktaf diiringi isak tangis yang tertahan.

Lihat selengkapnya