Hujan deras mengguyur kawasan perbukitan Sentul, Jawa Barat. Airnya mengetuk-ngetuk kaca jendela raksasa sebuah vila modern bernuansa monokrom yang berdiri tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan pinus.
Di dalam ruang tengah yang dihangatkan oleh perapian elektrik, udara terasa begitu berat dan menyesakkan. Konita tampak duduk memeluk lututnya di atas sofa berbahan suede kelabu. Matanya tidak berkedip menatap ke layar televisi yang sedang menayangkan siaran ulang konferensi pers Isvara Jennitra.
Di sebelahnya, Ezra Yogaswara duduk menemani. Pria itu hanya terdiam seperti patung, hanya tangannya yang tidak henti mengusap lembut punggung Konita, memberikan dukungan agar gadis itu tidak hanyut dalam badai emosinya sendiri.
Di layar televisi, Isvara tampak sedang berlutut di lantai, perempuan itu terlihat menangis, memohon, dan bersujud, meminta media melepaskan Konita.
Ponsel di atas meja kaca tidak berhenti menyala. Puluhan notifikasi dari berbagai macam platform media sosial masuk silih berganti dengan beberapa tagar yang viral.
#ProtectKonita
#WeAreSorryKonita
Tagar tersebut menduduki puncak trending topic global. Publik yang tadinya menghujat, kini berbalik arah 180 derajat. Ribuan komentar simpati membanjiri ruang digital, mengutuk media yang telah menekan Konita, dan mengagumi ketegaran gadis itu, sekaligus memuji 'pengorbanan' Isvara yang berani menghancurkan reputasinya sendiri demi sang anak.
Ezra segera meraih remote dan mematikan televisi. Layar raksasa itu pun menggelap, menyisakan suara derai hujan dari luar. Pria itu kemudian beralih ke dapur dan kembali ke ruang tengah sambil membawa secangkir teh hangat.
"Berita itu sudah diputar di semua stasiun TV sejak tadi malam, Ta. Kamu harus berhenti menontonnya, lihat matamu sudah bengkak," ucap Ezra lembut sambil menyodorkan secangkir teh chamomile hangat ke hadapan Konita, lalu duduk di sebelahnya lagi, "minumlah sedikit... kamu belum makan apapun sejak aku membawamu kemari."
Konita tidak menyentuh cangkir itu. Gadis itu hanya menoleh perlahan ke arah Ezra. Wajahnya tampak datar. Namun, matanya memancarkan kekosongan yang mengerikan.
"Dia hebat sekali, ya, Mas Ezra?" suara Konita terdengar lirih, nyaris seperti bisikan.
"Apanya yang hebat, Sayang?" tanya Ezra hati-hati, alisnya bertaut melihat respons gadisnya yang di luar dugaan.