Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #41

Pertemuan Dua Saudari

Aroma oli mesin dan karet ban yang terbakar menyambut indra penciuman Konita saat melangkah turun dari mobil Range Rover hitam milik Ezra. 

Tepat di tikungan jalan kawasan padat penduduk kota Jakarta, tampak sebuah bengkel motor kecil dengan cat dinding yang mulai mengelupas. Bengkel itu terlihat sepi, pintu rolling besinya pun setengah tertutup, menandakan tidak ada aktivitas perbengkelan hari ini.

Setelah selama dua hari mengasingkan diri di villa Sentul milik Ezra, Konita akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia harus menghadapi kenyataan dan mencoba hidup normal tanpa ada embel-embel nama Isvara Jennitra, yang ada hanya Konita dan ayahnya. 

Dengan langkah pelan. Namun, pasti, Konita bergegas menyelinap masuk ke dalam rumah yang ada di sebelah bengkel, sementara mobil Range Rover warna hitam milik Ezra langsung melesat pergi.

Di dalam rumah yang sederhana, di sudut ruangan yang temaram, Luqman Taher tampak duduk mematung di atas kursi yang terbuat dari ayaman bambu.

Pria paruh baya itu tampak sepuluh tahun lebih tua. Rambutnya terlihat berantakan dengan wajah yang kuyu dan kedua bola mata menatap kosong ke arah lantai yang sedikit kotor.

"Ayah..." panggil Konita lirih.

Luqman tersentak, lalu mendongak, dan matanya seketika membelalak. Tubuh rentanya bergetar hebat saat buru-buru bangkit dari kursi hingga nyaris tersandung kakinya sendiri.

"Konita? Nduk... kamu pulang, Nak?" suara Luqman pecah seketika sambil terus melangkah maju, menghampiri Konita dengan kedua bola mata yang berbinar terang.

“Kamu nggak apa-apa ‘kan, Nduk? Kamu baik-baik saja ‘kan?” lanjutnya sambil menyapu keseluruh tubuh Konita dari atas sampai bawah.

“Aku baik-baik saja, Ayah. Aku nggak apa-apa… Ayah, nggak usah khawatir,” ujar gadis itu sambil mengamati tangan kasar sang Ayah yang sedikit gemetar.

Konita teringat saat dulu dia masih kecil, tangan renta itulah yang menyuapinya saat sakit demam, yang membelikannya pisau dapur pertamanya saat dia bermimpi menjadi koki, bukan tangan Isvara Jennitra yang berhias berlian.

Dipeluknya laki-laki tua itu, membuat sang ayah menangis tersedu-sedu sambil membalas pelukan putrinya dengan erat. 

"Syukurlah kamu nggak apa-apa, Nduk…. Ayah benar-benar takut waktu mendengar berita penghancuran warung pecel lele boss-mu itu dan soal ibumu… seandainya kamu benci sama Ayah, Ayah terima, Nduk… asal kamu jangan luntang-lantung di jalanan."

Lihat selengkapnya