Beberapa hari kemudian,
Ruang perawatan VVIP di Rumah Sakit Medika Jakarta terasa begitu sunyi dan dingin. Hanya suara ritmis dari monitor detak jantung yang memecah keheningan ruangan yang bernuansa putih bersih.
Di atas ranjang hidrolik, Isvara Jennitra tampak terbaring lemah. Selang oksigen tipis masih melingkar di hidungnya, dengan jarum infus yang menancap di punggung tangannya yang memucat.
Konferensi pers yang digelar beberapa hari yang lalu telah menguras habis sisa pertahanan imun di tubuhnya, memaksanya kembali ke ruang intensif. Namun, meski fisiknya hancur, sorot mata wanita yang hampir berusia kepala lima itu masih menyalakan tekad yang menyala-nyala.
Tak lama kemudian, pintu kamar pun terbuka perlahan. Freya masuk dengan langkah tanpa suara, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan kemeja kotak-kotak pudar dan jaket kulit hitam. Pria itu tampak tidak cocok berada di ruangan semewah ini. Namun, tatapan matanya tajam seperti elang yang sedang memindai mangsa.
"Bu Isvara," bisik Freya sambil berdiri di samping ranjang, "Detektif Bima sudah datang…. sesuai permintaan rahasia Ibu.” Pria paruh baya itu mengangguk, lalu menatap ke arah Isvara yang terbaring lemah.
“Pak Bima ini detektif swasta terbaik yang bergerak di bawah radar. Nggak ada media yang tahu soal kedatangannya kemari."
Isvara menggeser kepalanya perlahan, menatap ke arah pria itu. "Kamu yakin bisa merahasiakan ha ini, Pak Bima?" suaranya parau dan sangat pelan, memaksa sang detektif melangkah lebih dekat.
"Profesionalitas adalah nyawa saya, Nyonya Isvara…. kalau rahasia Anda bocor, Anda bisa memotong lidah saya," jawab Detektif Bima dengan nada datar. Namun, penuh keyakinan.
Pria itu lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit dari saku jaketnya. "Asisten Anda bilang kalau Anda ingin mencari seorang pria dari masa lalu Anda.” Isvara mengangguk, mengiyakan, “mencari seorang pria dua puluh enam tahun yang lalu, itu bukan pekerjaan yang mudah, Nyonya."
Isvara memejamkan matanya, seolah menarik kembali memori kelam yang berusaha dia kubur dalam-dalam selama dua dekade terakhir. Permintaan maaf dari Shiela atau publikasi tangisannya di media tidak akan pernah cukup untuk membayar hancurnya identitas Konita. Perempuan itu harus mengembalikan apa yang paling hakiki bagi putrinya yaitu seorang ayah kandung. Konita berhak tahu siapa ayah kandung sesungguhnya.
"Aku tahu ini sulit," desah Isvara sambil membuka matanya kembali. "Malam itu... dua puluh enam tahun yang lalu, aku baru saja selesai menyelesaikan syuting film perdanaku. Ada pesta tertutup di sebuah vila di kawasan Puncak.” Ucapannya terhenti di udara, seolah berusaha mengingat-ingat peristiwa malam itu.
“Malam itu… aku mabuk parah, semua orang mabuk dan aku... aku menghabiskan malam dengan seorang pria di salah satu kamar."
Detektif Bima mencatat dengan cepat. "Apa Anda ingat siapa namanya? Atau mungkin ciri-ciri fisiknya?"