Gemerlap lampu malam kota Jakarta tampak seperti ribuan kunang-kunang dari balik dinding kaca sebuah kantor di lantai dua puluh gedung firma arsitektur tempat Ezra Yogaswara bekerja.
Pemandangan lalu lintas ibu kota yang merayap di bawah sana tampak seperti lautan cahaya merah dan kuning yang kabur oleh air. Suhu pendingin ruangan pun terasa lebih menusuk dari biasanya.
Hujan rintik-rintik yang membentur kaca tebal itu menjadi satu-satunya suara latar di dalam ruangan yang luas bernuansa maskulin, tidak lama kemudian terdengar sebuah ketukan pelan di pintu yang memecah keheningan.
"Masuk," suara bariton Ezra terdengar berat dan dingin. Pria itu tampak berdiri membelakangi pintu, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana kain yang berwarna hitam pekat, menatap kosong ke arah kemacetan Jalan Sudirman di bawah sana.
Pintu pun terbuka, Julian, kepala investigator dari firma detektif swasta paling elit di Jakarta yang disewa Ezra, melangkah masuk. Pria berwajah datar dengan setelan jas rapi itu membawa sebuah map kulit berwarna hitam dan berhenti tepat dua langkah di belakang meja kerja kayu oak milik Ezra.
"Kamu terlambat empat puluh lima menit dari janji temu kita, Pak Julian," tegur Ezra tanpa basa-basi. Suaranya berat dan berwibawa, mencerminkan ketegasannya yang biasa.
Julian menarik napas panjang, mengusap sisa air hujan di wajahnya sebelum duduk di kursi. "Maaf, Pak Ezra... cuaca Jakarta malam ini kacau, dan jujur saja untuk memastikan validitas data ini membuat saya harus menemui satu saksi kunci terakhir di daerah pinggiran Bogor."
Ezra memutar tubuhnya perlahan. Rahangnya mengeras, lalu berjalan mendekati meja, menatap map hitam itu seolah benda tersebut adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Saksi kunci? Maksudmu, kamu benar-benar menemukan siapa laki-laki yang bersama Isvara Jennitra dua puluh enam tahun yang lalu?" lanjutnya dengan suara rendah sambil menarik kursi kulit, lalu duduk dengan postur tegang.
"Ya... saya menemukannya, Pak," jawab Julian lugas sambil meletakkan map itu di atas meja setelah duduk di kursi yang ada di depan meja Ezra, "tapi sebelum Anda membukanya, saya harus memperingatkan sesuatu.”
Alis Ezra bertaut. "Peringatan apa? Aku membayarmu ratusan juta bukan untuk mendengarkan peringatan atau teka-teki, Pak Julian... aku butuh sebuah nama."
"Saya tahu, Pak," sela Julian cepat, "Namun, dunia ini kadang terlalu sempit, dan kebenaran sering kali adalah hal yang paling tidak ingin kita dengar.” Suara Julian terhenti sesaat di udara, lalu menghela napas panjang.
“Jadi begini, Pak Ezra…. pria yang menghamili Isvara Jennitra dua puluh enam tahun yang lalu bukan orang sembarangan. Beliau adalah seseorang yang memiliki kekuasaan, dan... sangat dekat dengan lingkaran hidup Anda."
"Jangan berputar-putar, Pak Julian…. jelaskan padaku bagaimana kamu bisa mendapatkan nama ini terlebih dulu," tuntut Ezra penasaran. Sifat perfeksionisnya menolak menerima informasi mentah tanpa mengetahui prosesnya.
"Karena menurut Nyonya Isvara sendiri… dia bahkan lupa siapa laki-laki itu, karena saat itu dia sedang di bawah pengaruh alkohol di sebuah pesta tertutup. Lalu… bagaimana kamu melacaknya?"
"Itulah masalahnya, Pak Ezra." Julian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Nyonya Isvara tidak sekadar mabuk. Dua puluh enam tahun yang lalu, sebelum dia menjadi aktris papan atas, dia sering sekali menghadiri pesta privat yang diselenggarakan oleh para petinggi dan pengusaha. Sebuah pesta di villa kawasan Puncak. Tidak ada kamera ataupun media, dan semua staf dibungkam dengan uang."