Jalanan tol Sudirman malam itu terjebak dalam kemacetan yang panjang akibat hujan badai. Ezra tampak duduk dibalik kemudi mobil Range Rover hitamnya, membiarkan wiper di kaca depan mobil bekerja keras menyapu air yang membasahi kaca.
Suara klakson dari kendaraan lain terdengar sayup-sayup dari luar. Namun, di dalam kepala Ezra, suaranya jauh lebih bising. Tatapannya sesekali melirik ke arah tas kerjanya yang teronggok di kursi penumpang, tempat dia menyembunyikan laporan detektif tadi.
Rahangnya terkatup rapat hingga otot pelipisnya menegang. Diraihnya ponsel yang terhubung dengan sistem audio mobil. Tangannya sedikit gemetar saat menekan nomor kontak yang tersimpan dengan nama 'Papa Wahyu', ayah kandungnya yang tinggal di Surabaya.
Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum suara bariton yang hangat terdengar dari seberang.
"Halo, Za? Tumben malam-malam telepon Papa. Ada apa?"
"Halo, Pa," suara Ezra terdengar parau, lalu berdeham, berusaha menstabilkan nada suaranya agar terdengar normal. "Nggak, Pa… nggak ada apa-apa, cuma... kebetulan lagi di jalan, kejebak macet. Pengen dengar suara Papa aja."
Terdengar kekehan dari seberang. "Kamu ini... pasti lagi stres mikirin media yang ngejar-ngejar pacarmu itu, ‘kan? Bagaimana kabarnya Konita? Papa lihat beritanya di televisi, kasihan anak itu. Dia baik-baik aja ‘kan sekarang?"
"Konita aman, Pa…. dia baik-baik saja, Ezra sembunyikan dia di tempat yang wartawan dan publik nggak bisa sentuh," jawab Ezra pelan. Dadanya terasa sesak saat menyebut nama Konita. "Pa..."
"Ya, Za? Kenapa?"
"Papa masih ingat ‘kan waktu Papa dan Mama serahkan aku ke Ayah Broto untuk diangkat jadi anak?" tanya Ezra, suaranya terdengar pelan, seolah takut kalimatnya sendiri akan melukai hatinya.
Suasana terasa hening sejenak di ujung telepon. Helaan napas Wahyu terdengar berat. "Kenapa kamu tiba-tiba bahas itu, Nak? Semuanya ‘kan sudah kami beritahukan ke kamu sejak kamu kecil,” sahut Pak Wahyu di ujung sana.
“Kamu tahu sendiri ‘kan… saat itu Ayah dan Bundamu sangat putus asa, mereka ingin sekali punya anak dan dalam tradisi keluarga kita, mengangkat anak pancingan dari saudara kandung itu biasa, agar Bundamu bisa cepat hamil."
"Tapi Bunda nggak pernah hamil ‘kan, Pa?" sahut Ezra.