Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #45

Dilema Ezra

Asap dari sisa pembakaran ayam bakar dan aroma bumbu pecel lele menguar di udara di sebuah warung tenda tempat Konita bekerja yang beroperasi di pinggir jalan yang riuh oleh suara pengamen dan obrolan pelanggan.

Saat itu hujan baru saja reda, menyisakan genangan air kotor di jalanan aspal. Konita Reveena, dengan celemek yang sedikit kotor oleh noda kecap dan keringat yang menempel di dahi, dengan gesit mengangkat tiga piring kotor sekaligus.

Wajahnya yang cantik dan tegas terlihat lelah, tapi matanya memancarkan kemandirian yang tidak bisa dipatahkan. Gadis itu berjalan menuju ke area cuci piring di sudut belakang tenda.

Namun, langkah Konita terhenti saat sebuah tangan besar dan kokoh menahan lengannya lembut.

"Belum selesai juga?"

Konita menoleh. Ezra terlihat berdiri di belakangnya, mengenakan kemeja kantor yang lengannya sudah digulung hingga ke siku. Wajah pria itu terlihat tegang, matanya menatap berkeliling ke arah setiap sudut warung tenda yang mulai kosong dan hanya dipenuhi oleh beberapa karyawan yang sedang membersihkan dan merapikan meja dan bangku.

Tatapan Ezra penuh dengan kewaspadaan yang berlebihan, seolah mencari sosok wartawan yang bersembunyi di sekitar warung tenda.

"Mas Ezra? Kamu ngapain ke sini?" Konita mengerutkan kening sambil menarik lengannya pelan. "Aku belum selesai kerja. Shift-ku baru kelar jam sebelas malam nanti, warung baru aja tutup."

“Baiklah, aku tunggu di mobil, jangan lama-lama ya.” Ezra segera berbalik ke mobilnya yang diparkir di pinggir jalan. Tak lama kemudian setelah selesai mencuci semua peralatan makanan dan minuman yang kotor sekaligus menutup warung tenda bareng beberapa karyawan Bang Tarjo yang lainnya, akhirnya Konita menghampiri mobil Range Rover hitam milik Ezra.

“Hei, sudah selesai?” tanya Ezra saat Konita membuka pintu mobil, lalu duduk di sebelah pria itu yang duduk di belakang kemudi.

Konita hanya mengangguk seraya berkata, “Mas Ezra nggak usah jemput aku seperti ini, aku bisa pulang sendiri kok, aku ‘kan bawa motor,” gerutunya ketus.

"Situasi kamu ini belum normal, Ta…. kondisinya masih berbahaya," Suara Ezra terdengar lirih. Namun, mengintimidasi. "Lalu siapa yang bawa motormu?"

“Dibawa sama Amar... tenanglah, Mas… sejak kapan kamu jadi overprotektif dan paranoid begini? Wartawan sudah jarang nyari aku… Nyonya Isvara ‘kan sudah bicara di depan publik."

Lihat selengkapnya