Konita tampak berdiri di ambang pintu, memegang kenop pintu sambil menatap ke arah Ezra dengan tatapan bingung.
"Mas Ezra? Kamu belum tidur?" suara Konita terdengar serak khas orang bangun tidur. Alisnya bertaut melihat kekasihnya masih berpakaian rapi dengan wajah tegang. "Suara apa itu?"
"Bukan apa-apa," jawab Ezra cepat, nadanya sedikit terlalu tinggi. Bergegas dimatikan mesin penghancur kertas itu dan melemparkan sisa amplop kosong ke tempat sampah. "Hanya menghancurkan dokumen tender yang batal. Kamu sendiri… kenapa bangun, Ta?"
Konita melangkah masuk, menyilangkan tangannya di depan dada. Matanya yang tajam memindai wajah Ezra yang jelas-jelas menyimpan kepanikan.
"Aku haus… jadi aku ke dapur, ambil air di sana dan aku dengar ada suara di ruang kerjamu, makanya aku ke sini, tapi kenapa kamu terlihat seperti habis lihat hantu?"
"Aku cuma lelah,Ta…. pekerjaanku lagi banyak banget," kilah Ezra sambil berjalan menghampiri perempuan itu dan mencoba merangkul bahunya.
Namun, Konita melangkah mundur, menolak sentuhan itu. Perempuan itu terlihat curiga dan tidak percaya dengan jawaban kekasihnya.
"Jangan bohong, Mas... sejak kita pulang dari warung tenda tadi, sikapmu sangat aneh. Kamu terus-menerus mengecek ponsel, mengunci semua pintu apartemen dua kali, bahkan menyuruh satpam lobby untuk tidak mengizinkan siapapun naik. Ada apa sebenarnya, Mas?" tanyanya heran
"Aku hanya ingin melindungimu, Ta… media bisa saja menemukan tempat ini," bantah Ezra, suaranya mulai sedikit meninggi.
"Media nggak peduli sama aku lagi, Mas. Nyonya Isvara sudah membersihkan namaku di depan pers," balas Konita tidak kalah keras, "dan aku ini bukan buronan! Tapi sikapmu malam ini sungguh aneh, seolah-olah ada pembunuh bayaran yang sedang memburu kita!"
"Kamu nggak ngerti betapa kejamnya dunia luar, Ta… mulai besok, kamu nggak boleh keluar dari apartemen ini tanpa pengawasanku. Paham?" perintah Ezra dengan sorot mata yang gelap dan menuntut.
Mata Konita melebar. Sifat keras kepalanya langsung tersulut. "Apa kamu bilang? Aku nggak boleh keluar? Mas… aku ini manusia, bukan burung peliharaan yang bisa kamu kurung di dalam sangkar emasmu."
"Semua ini demi kebaikanmu, Ta." Ezra mencengkram kedua bahu Konita, "aku nggak akan membiarkan siapapun menyentuhmu atau menghancurkan hidup kamu lagi. Kamu akan tetap di sini, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu nggak butuh dunia luar."
"Lepaskan aku!" Konita menepis tangan pria itu dengan kasar. "Kamu tahu persis kalau aku paling benci dikontrol, Mas Ezra! Setelah Ayah Luqman bohong ke aku selama dua puluh lima tahun, setelah Nyonya Isvara membuang aku, sekarang kamu mau mengurungku?! Apa bedanya kamu dengan mereka?!"
"Jangan samakan aku dengan orang-orang yang membuangmu, Ta!" bentak Ezra, rahangnya mengeras. Dadanya naik turun dengan cepat. "Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu! Karena aku nggak mau kehilangan kamu!"
"Cinta tidak mencekik, Mas Ezra," desis Konita dingin, kedua bola matanya tampak berkaca-kaca, "cinta itu membebaskan. Kalau kamu terus bersikap paranoid dan posesif seperti ini, justru kamu yang akan membuatku pergi."
Kalimat itu menohok ulu hati Ezra. Pria itu terdiam, menatap nanar wajah Konita. Ketakutan akan kehilangan perempuan ini justru membuatnya bertindak seperti monster.