Kantor firma arsitektur Ezra Yogaswara mendadak terasa hening. Para staf yang biasanya sibuk lalu lalang, kini terpaku di meja mereka masing-masing saat melihat seorang wanita berpenampilan elegan dengan kacamata hitam besar menerobos masuk tanpa membuat janji.
Perempuan itu adalah Isvara Jennitra yang nekat minta dipertemukan dengan Ezra Yogaswara tanpa membuat janji terlebih dulu, sementara Freya, asisten Isvara berlari kecil mengikuti di belakang sang diva, berusaha mencegah sekretaris Ezra yang ingin menahan bosnya.
“Dimana ruang kerja Ezra?” tanya Isvara sambil terus berjalan menyusuri lorong kantor calon menantunya dan menyapu tatapannya ke penjuru lorong dan ruangan.
"Nyonya Isvara, Anda tidak bisa masuk tanpa ijin."
“Apa perlu saya teriak, manggil Ezra… biar dia keluar dari ruang kerjanya?” Rahang Isvara tampak mengeras, kedua bola matanya pun berkilat karena marah.
“Lebih baik tunjukkan saja di mana ruang kerja Pak Ezra,” sela Freya dengan tatapan memohon ke sekretaris Ezra yang terlihat ketakutan.
Perempuan itu akhirnya mengangguk terpaksa dan mengajak keduanya menuju ke ruang kerja Ezra yang ada di ujung lorong.
“Maaf, Pak Ezra… ada…” Belum juga ucapan si sekretaris selesai, pintu kayu yang dihalangi oleh perempuan itu langsung terbuka lebar. Isvara menyeruak masuk ke dalam ruang kerja Ezra diikuti oleh Freya yang mengekor di belakang, mengabaikan seruan si sekretaris. Ezra yang sedang memeriksa maket bangunan di atas mejanya terlonjak kaget.
"Tinggalkan kami berdua…. pastikan nggak ada yang masuk ke ruangan ini," perintah Isvara dengan nada membunuh ke sekretaris Ezra dengan tatapan tajamnya.
Ezra segera memberi isyarat dengan tangannya agar si sekretaris menuruti perintah itu. Freya pun ikut mundur dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan dua manusia itu dalam ketegangan yang menyesakkan dada.
Begitu pintu tertutup, Isvara melepas kacamata hitamnya. Matanya yang sembab menatap tajam ke arah Ezra.
"Kapan kamu tahu, Ezra?" tembak Isvara tanpa basa-basi. Suaranya rendah. Namun, mengandung ledakan amarah, "kapan kamu tahu kalau ayah kandung kekasihmu adalah ayah angkatmu sendiri?!"
Tubuh Ezra menegang. Dia sudah menduga kalau hari ini pasti akan tiba, tapi dia tidak menyangka kalau Isvara bisa bergerak secepat ini. Pria itu lalu berjalan mengitari mejanya, menatap wajah ibu kandung Konita dengan sorot mata yang dingin.