Angin malam di pinggiran kota Jakarta berembus sangat kencang, membawa aroma asap knalpot dan sisa pembakaran arang. Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Beberapa warung tenda yang berjejer di pinggir jalan mulai membereskan kursi plastik dan meja kayu mereka, sudah saatnya untuk istirahat setelah seharian mengais rejeki.
Sementara itu di sudut jalan yang agak gelap, sebuah mobil sedan abu-abu terparkir dengan mesin menyala. Dari balik kaca mobil yang diturunkan setengah tampak seorang pria dengan kaca mata hitamnya menatap tajam ke arah warung tenda tempat Konita bekerja.
Pria itu adalah Rachmat, mantan karyawan rumah sakit yang dipecat secara tidak hormat karena terbukti membocorkan data medis Isvara dan Konita ke media.
Gara-gara campur tangan Ezra Yogaswara, Rachmat bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga masuk dalam daftar hitam di seluruh rumah sakit di Jakarta. Karirnya hancur lebur, tidak ada satu pun rumah sakit yang mau menerimanya bekerja.
"Lihat baik-baik... itu perempuannya yang ada di tenda oranye itu." Tunjuk Rachmat dengan dagunya ke tiga orang pria berwajah garang yang berdiri di samping mobilnya.
"Gara-gara simpati publik beralih padanya, aku yang jadi korban. Hancurkan warung itu, bikin keributan sampai dia trauma dan nggak berani keluar rumah lagi."
Pria berkepala plontos dengan tato di lehernya menyeringai. "Beres, Bos. Kami cuma bikin kekacauan saja, ‘kan? Nggak perlu sampai bunuh orang?"
"Jangan ada yang mati, aku nggak mau berurusan sama polisi," desis Rachmat, "pukul saja siapa saja yang menghalangi dan pastikan perempuan sombong itu tahu rasanya kehilangan tempat mencari makan. Ini bayaran pertama kalian. Aku tunggu kabar selanjutnya!"
Rachmat menyerahkan amplop tebal berwarna coklat ke salah seorang preman. Ketiga preman itu mengangguk sambil menyeringai senang, lalu berjalan santai menyusuri trotoar menuju ke warung tenda Bang Tarjo.
Di dalam warung tenda cabang terbaru milik Bang Tarjo, Konita sedang menyusun piring bersih ke dalam keranjang plastik yang ada di gerobak. Napasnya teratur, meski keringat membasahi pelipisnya.
Di dekat gerobak, Luqman Taher, pria paruh baya yang membesarkannya sedang mengelap meja dengan gerakan lambat. Punggung rentanya terlihat sedikit bungkuk.
Sejak Konita disuruh mengelola warung tenda Bang Tarjo yang terbaru dengan konsep masakan yang berbeda yaitu nasi goreng dan mie goreng dengan dua pekerja lainnya, Luqman Taher menawarkan diri untuk membantunya setelah selesai bekerja di bengkel.