Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #49

Pertarungan dan Darah

Pintu kemudi SUV hitam itu terbuka dari dalam. Ezra Yogaswara melompat keluar dengan napas memburu. Mata yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak segelap malam yang tidak berbintang.

Dari informasi yang dia dapat dari Mira yang menghubunginya lewat ponsel tentang keributan di warung tenda Bang Tarjo, Ezra langsung meluncur ke warung tenda oranye ini dengan perasaan kesal. Laki-laki itu merasa heran, kenapa selalu ada orang yang membuat masalah dengan kekasihnya.

Saat Ezra melangkah ke warung tenda, dilihatnya Konita sedang duduk menangis di tanah beton dengan pakaian berlumuran darah sambil memeluk Luqman, kewarasan Ezra terputus seketika. Rahangnya tampak mengeras, darahnya pun mendidih. Amarahnya mulai memuncak hingga kemeja kantor yang dipakainya terasa mencekik.

"Mas Ezra! Tolong Ayah!" jerit Konita saat melihat sosok kekasihnya datang menghampiri mereka.

"Jangan ada yang berani bergerak!" raung Ezra, suaranya menggema mengalahkan suara kendaraan di jalan raya sambil berjalan cepat mendekati area warung yang sudah porak-poranda.

Preman bertato itu mendecih remeh. "Oh, jadi ini pacar kayanya si anak haram? Pahlawan kesiangan datang, Bos."

Tanpa membuang waktu untuk bicara, Ezra segera menyambar sebuah kursi kayu utuh yang tergeletak di dekatnya. Dengan tenaga penuh yang didorong oleh adrenalin dan ketakutan akan rasa kehilangan, Ezra menghantamkan kursi itu tepat ke wajah preman yang memegang tongkat besi.

Kursi kayu itu hancur berantakan. Preman bertato pun jatuh terpelanting ke belakang, hidungnya patah dan menyemburkan darah segar, tongkat bisbolnya pun terpelanting jauh ke belakang.

"Bangsat!" teriak preman kedua dan ketiga bersamaan. Keduanya langsung maju mengeroyok Ezra.

Ezra bukanlah petarung profesional, tapi sebagai seorang arsitek lapangan, fisiknya sangat terlatih dan kuat. Ditangkisnya pukulan preman kedua dengan sikunya, lalu melayangkan pukulan telak ke rahang pria itu hingga terhuyung ke belakang.

"Mundur, Ta! Bawa Ayah menjauh!" teriak Ezra sambil memiting leher preman ketiga, lalu membantingnya ke lantai beton. Bang Sani yang masih bertahan di sana hanya terdiam, melihat aksi yang dilakukan oleh Ezra.

Pria itu bergegas membantu Konita dengan susah payah menarik tubuh Luqman menjauh dari pusat perkelahian, mendudukkannya di kursi kayu panjang yang ada di belakang gerobak.

Lihat selengkapnya