Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #50

Dokumen yang Terjatuh

Suasana di dalam apartemen mewah Ezra sangat kontras dengan kekacauan di jalanan tempat area warung tenda Bang Tarjo berada. Udara dingin dari pendingin ruangan dan aroma pengharum ruangan chamomile terasa menenangkan. Namun, ketegangan belum benar-benar pergi dari udara.

Konita duduk bersimpuh di atas karpet tebal di ruang kerja Ezra. Di depannya, kotak P3K terbuka lebar. Ezra duduk bersandar di kursi kerjanya, kemejanya sudah dilepas, memperlihatkan otot dadanya yang tegang dan kulitnya yang pucat. Luka sayatan di lengannya cukup dalam, tapi untungnya tidak mengenai pembuluh darah utama.

Dengan sangat hati-hati, Konita membersihkan sisa darah dengan kapas beralkohol. Air matanya sudah mengering, tapi matanya masih memerah.

"Sakit?" tanya Konita pelan.

"Nggak… selama kamu yang ngobati," jawab Ezra sambil tersenyum tipis, berusaha bercanda meski ringisan kecil lolos dari bibirnya.

Konita menatap tajam ke arah mata kekasihnya. "Mulai sekarang… berhenti bertingkah seperti pahlawan kesiangan, Mas Ezra. Kalau pisau itu meleset sedikit saja dan mengenai dadamu, aku nggak tahu harus bagaimana."

"Aku nggak bisa berpikir jernih saat melihatmu diserang, Ta." Ezra menunduk, menatap puncak kepala Konita. Perasaan bersalah kembali menghantam batinnya.

“Aku rela berdarah-darah untukmu di luar sana, tapi aku jugalah yang sedang menyembunyikan bom waktu yang akan menghancurkanmu,” batinnya cemas dalam hati.

"Sudah selesai," ucap Konita, merekatkan ujung perban dengan plester medis, "lukanya sudah rapat, tapi besok pagi kita tetap harus memanggil dokter kenalanmu untuk menjahitnya. Jangan membantah."

"Siap, Nona Chef," jawab Ezra patuh, lalu berdiri dan sedikit terhuyung karena efek kehilangan darah. "Aku mau ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan sisa darah di wajahku. Kamu tunggu saja di sini, tolong bereskan kotak obatnya, ya."

Konita mengangguk dan membiarkan Ezra berjalan keluar dari ruang kerja menuju ke kamar mandi utama. Gadis itu menghela napas panjang. Dirapikan kapas, plester, perban dan botol antiseptik ke dalam kotak.

Saat hendak menutup kotak, matanya menangkap sesuatu. Obat merah yang dia gunakan tadi ternyata menetes ke atas lantai kayu, tepat di dekat celah kabinet jati penyimpan dokumen milik Ezra.

"Astaga, bisa bernoda kalau nggak segera dibersihkan," gumam Konita.

Diambilnya tisu basah, lalu membungkuk dan merangkak sedikit mendekati kabinet. Saat mengelap noda merah di lantai kayu, ujung jarinya menyentuh sebuah kertas yang menyembul dari bawah celah kabinet.

Lihat selengkapnya