Ezra tampak berdiri membeku, menatap lurus ke dalam manik mata kekasihnya, lalu menarik napas panjang. "Ta, aku bisa jelaskan…. tolong tenang dulu."
"Tenang?" Konita tertawa sumbang. Suaranya pecah. "Kamu nyuruh aku tenang, Mas? Setelah aku tahu kalau Jenderal Samiaji Brotosuseno, ayah angkatmu adalah laki-laki yang menghamili Nyonya Isvara dua puluh enam tahun yang lalu? Laki-laki yang merupakan ayah kandungku?!"
"Nita, dengarkan aku…"
"Sejak kapan kamu tahu, Mas Ezra?!" bentak Konita lantang. Suaranya menggema di ruang kerja. "Jawab aku! Sejak kapan kamu tahu kalau aku ini anak dari ayah angkatmu?!"
Ezra memejamkan matanya sesaat. Gurat lelah terlihat jelas di wajah berwibawanya. "Kurang lebih… sebulan yang lalu. Detektif yang aku sewa memberikan laporan itu."
"Apa? Sebulan?!" Konita mundur satu langkah, seolah baru saja ditampar. Tangannya meremas ujung kemeja yang dia kenakan. "Jadi… karena itu, kamu overprotektif ke aku dan merahasiakan semua ini dari aku?!"
"Itu karena aku ingin melindungimu, Nita!" Ezra melangkah maju, mencoba meraih tangan Konita. Namun, gadis itu menepisnya dengan kasar.
"Melindungi dari apa? Dari kenyataan kalau pacarku sendiri ternyata anak angkat dari ayah kandungku? Kenyataan bahwa dunia ini ternyata terlalu sempit dan lucu?!"
"Melindungimu dari kehancuran yang lebih parah!" Ezra akhirnya meninggikan suaranya, membiarkan sisi ketegasannya mengambil alih.
"Coba kamu pikir… apa yang akan terjadi kalau media tahu Jenderal Brotosuseno memiliki anak di luar nikah dengan seorang Diva legendaris Isvara Jennitra? Karir Ayahku pasti akan hancur, Nyonya Isvara juga akan kembali digeruduk media, dan kamu... kamu nggak akan pernah bisa hidup dengan tenang, Nita! Wartawan akan memburumu sampai mati!"
Konita menatap Ezra dengan tatapan tidak percaya yang mendalam. Air mata mulai menggenang di ujung pelupuk matanya. "Jadi semua ini demi karir ayahmu? Demi nama baik keluarga Brotosuseno?"
"Bukan begitu maksudku, Ta." Rahang Ezra mengeras, "ini tentang kamu. Mentalmu sudah cukup hancur saat Nyonya Isvara memaksamu mendonorkan sumsum tulang belakang, lalu Shiela, adik tirimu membutuhkan donor darah. Kamu telah berkorban sangat banyak.” Suaranya mulai merendah.
“Dan lagi... kamu baru saja pulih... kamu kehilangan pekerjaanmu sebagai chef dan harus bersembunyi di sini. Aku nggak mau membebani kamu dengan fakta kalau ayah kandungmu adalah pejabat negara yang nyaris tidak mungkin bisa menerima kamu secara terbuka di depan publik."
"Tapi kamu nggak berhak memutuskan semua itu untukku, Mas Ezra!" jerit Konita, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. "Kamu nggak berhak menyembunyikan identitasku! Aku berhak tahu siapa laki-laki yang membuangku!"
"Dia nggak membuangmu, Nita... Ayahku bahkan nggak tahu kalau Isvara hamil saat itu!"
"Lalu apa bedanya?!" Konita menyeka air matanya dengan kasar. "Faktanya adalah... aku ini anak hasil cinta semalam yang tidak diinginkan siapapun! Isvara tidak menginginkanku, laki-laki itu tidak tahu aku ada, dan sekarang… pria yang aku cintai membohongi aku!" jerit Konita kesal.