Malam itu, Konita masih menangis sejadi-jadinya dipelukkan Luqman Taher yang hanya bisa terdiam membisu dan membiarkan putri angkatnya menumpahkan semua keluh kesahnya.
"Ayah... sakit, sakit sekali Ayah..." isak Konita sambil membenamkan wajahnya di dada Luqman.
Luqman tidak bertanya lebih jauh. Tangan kasarnya yang kapalan karena bertahun-tahun memegang mesin motor perlahan mengelus rambut Konita yang basah. Kedua bola mata pria paruh baya itu tampak berkaca-kaca, seolah bisa merasakan kepedihan yang dirasakan putrinya.
Pria pendiam dan selalu merasa rendah diri itu mulai meneteskan air mata. Rasa bersalah karena telah menyembunyikan identitas Konita selama 25 tahun kembali merobek batinnya.
"Menangislah, Nduk. Keluarkan semuanya... Ayah ada di sini. Ayah nggak akan ke mana-mana," bisik Luqman parau.
"Nita ini siapa, Ayah?" Konita mengangkat wajahnya, menatap ke arah Luqman dengan tatapan yang kosong dan hancur. "Nita ini sebenarnya siapa? Kenapa dunia jahat sekali sama Nita?"
"Kamu anak Ayah… dari dulu sampai sekarang. Kamu ini anak kebanggaan Ayah, Nita."
"Bukan!" Konita menggeleng keras, air matanya berhamburan. "Nita bukan anak Ayah! Nita cuma anak haram! Anak hasil cinta semalam yang menjijikkan dari seorang aktris dan pejabat negara! Nita tidak diinginkan, Ayah!"
Luqman menangkup kedua pipi Konita yang basah. "Siapa yang bilang kamu tidak diinginkan? Ayah, almarhum ibu dan almarhum nenekmu sangat menginginkan kamu. Sejak hari pertama Isvara menitipkan kamu waktu kamu masih bayi merah yang mungil, Ayah sudah janji sama Tuhan, kalau kamu adalah putri Ayah."
"Tapi Mas Ezra bohong sama Nita, Ayah!" Konita memukul dadanya sendiri yang terasa sesak. "Mas Ezra tahu siapa ayah kandung Nita, tapi dia diam saja. Mas Ezra bahkan nggak mau ngasih tahu ke Nita.”
“Kenapa bisa begitu?” tanya Luqman semakin heran. Konita akhirnya menceritakan semua yang terjadi di apartemen Ezra setelah dia mengobati luka di tangan pria itu dengan suara yang terbata-bata. Dadanya masih terasa sesak, suaranya pun parau.
Luqman terpaku. Matanya melebar. Kabar itu menghantam dadanya sangat keras bagaikan hantaman palu godam yang sangat berat. "Jadi… ayah angkat Nak Ezra… ayah…”
Suara Luqman menggantung di udara, pria paruh baya itu tidak mampu meneruskan ucapannya, karena kenyataan ini benar-benar membuatnya shock dan tidak percaya. Luqman tidak menduga kalau laki-laki yang pernah ditemuinya di acara pertunangan Konita dan Ezra sebagai ayah angkat Ezra adalah ayah kandung putrinya.