Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #53

Keputusan Final

Satu minggu kemudian,

Di sebuah ruang VIP di restoran bergaya kolonial yang berada di kawasan Menteng, sore itu terasa begitu mencekam. Pendingin ruangan yang disetel pada suhu delapan belas derajat gagal mendinginkan atmosfer yang telanjur mendidih di antara tiga orang yang duduk mengitari meja bundar dengan tiga cangkir kopi hangat yang ada di depan mereka.

Di salah satu kursi, Konita tampak duduk dengan punggung yang tegak, tangannya sibuk mengaduk cangkir kopi di depannya, sementara Isvara Jennitra duduk di seberang meja dengan kacamata hitam besar yang baru saja diletakkannya di atas meja lalu menyesap kopinya perlahan, sedangkan di sisi kanan, Ezra Yogaswara duduk dengan tatapan lurus tertuju ke Konita, mengabaikan kopi di depannya. Tatapan pria itu telihat penuh kerinduan sekaligus rasa bersalah yang teramat dalam.

"Aku nggak punya banyak waktu." Konita membuka suara terlebih dulu sambil meletakkan cangkir kopinya di atas meja setelah menyesapnya perlahan. Nada suaranya terdengar datar, tanpa emosi. "Aku datang ke sini hanya untuk satu hal, kalian pasti sudah tahu… jadi bukan untuk reuni keluarga."

"Nita..." Isvara mencoba meraih jemari Konita di atas meja. Namun, gadis itu segera menarik tangannya lebih cepat. Isvara menghela napas panjang, gurat penyesalan terlihat di balik riasan wajahnya yang mahal. "Ibu minta maaf... Ezra sudah menceritakan semua, kami bukannya merahasiakan ayah kandungmu. Ibu benar-benar…"

"Berhenti memanggil diri Anda dengan sebutan seperti itu. Anda tidak berhak," potong Konita tajam. Sepasang matanya menatap Isvara dingin. "Kita sudah sepakat di awal, kalau hubungan kita hanya sebatas donor sumsum tulang belakang saja. Setelah operasi selesai, saya adalah orang asing bagi Anda. Kita tidak punya hubungan lagi."

"Nita, tolong jangan keras kepala." Ezra akhirnya menyela, suaranya terdengar serak. "Nyonya Isvara sangat mengkhawatirkan kamu dan aku juga… kita berkumpul di sini untuk mencari jalan keluar terbaik."

Konita mengalihkan tatapannya ke Ezra. Ada denyut nyeri yang sempat singgah di dadanya saat menatap pria itu. Namun, cepat-cepat dikuburnya semua perasaan itu.

"Jalan keluar terbaik bagi siapa, Mas Ezra? Bagi karir politik Jenderal Samiaji Brotosuseno? Atau bagi reputasi kalian berdua?"

"Bagi ketenangan hidupmu sendiri, Nita." jawab Ezra tegas.

Konita tersenyum sinis, lalu menegakkan duduknya, menatap ke arah Isvara dan Ezra secara bergantian dengan sorot mata yang tidak bisa dibantah.

"Dengar baik-baik," sahut Konita dingin, suaranya ditekan rendah. Namun, penuh penekanan, "saya sudah memikirkan hal ini selama beberapa hari dan saya sudah memutuskan.” Suara Konita menggantung di udara sejenak, seolah sedang mengumpulkan semua energi untuk mengungkapkan keputusan finalnya.

Lihat selengkapnya