Malam itu, suite pribadi di lantai delapan belas Hotel The Dharmawangsa terasa semakin dingin. Sang Diva legendaris akhirnya bisa bertemu dengan orang masa lalunya.
Perempuan itu telah membulatkan tekad untuk tetap memberitahu sang jenderal, karena bagaimanapun juga pria itu berhak tahu tentang putri kandungnya yaitu Konita Reveena.
“Silakan duduk, Nyonya Isvara,” ujar Brotosuseno sambil duduk di sofa tunggal yang ada di depan Isvara, sementara perempuan itu kembali duduk di sofa panjang yang terbuat dari bahan kulit dengan warna yang sama, cokelat, menatap tajam ke arah sang jenderal.
“Aku dengar… berita tentang Anda cukup viral di media sosial, apalagi berhubungan dengan calon menantuku, Konita. Apa itu benar? Karena putraku, Ezra… pernah cerita soal itu.”
Isvara hanya menghela napas dan mengangguk kecil sambil memegang map hitam yang tadi diletakkan di atas meja.
“Lalu… apa tujuan Anda ke sini? Anda minta ajudanku untuk menjadwalkan pertemuan rahasia ini. Ada masalah apa?”
Isvara mendongak, menatap ke arah wajah pria yang dulu pernah berbagi suka dengannya ketika pria itu masih menjadi seorang perwira muda yang ambisius.
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Dengan tangan yang gemetar, didorongnya map kulit hitam yang dipegangnya sedari tadi, di atas meja kaca ke arah sang Jenderal. "Saya hanya ingin memberikan laporan ini, Pak… dan tolong baca sampai halaman terakhir."
Brotosuseno menatap map itu dengan rasa curiga. Perlahan, tangannya yang besar mengambil map tersebut dan membukanya. Halaman pertama adalah berkas medis rumah sakit. Halaman kedua, berkas akta lahir atas nama Konita Reveena dan halaman ketiga, selembar kertas hasil tes DNA resmi yang dikeluarkan oleh sebuah laboratorium forensik swasta terpercaya.
Hasil tes DNA resmi ini diberikan langsung oleh Ezra saat Isvara meminta bukti yang menguatkan kalau Jenderal Samiaji Brotosuseno benar-benar ayah biologis Konita, putrinya.
Mata sang Jenderal terbelalak menyapu baris demi baris angka probabilitas di atas kertas putih itu. Probabilitas Hubungan Darah Ayah-Anak: 99,99%
Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi dan senyap, membuat suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman sebuah palu. Otot leher Brotosuseno tampak menegang. Lembaran kertas di tangannya mulai bergetar halus. Sang Jenderal yang terkenal berdarah dingin di medan perang dan kancah politik mendadak kehilangan kemampuan berbicaranya selama hampir dua menit.
"Ini... apa maksudnya, Nyonya Isvara?" suara Brotosuseno berubah menjadi sangat rendah, hampir seperti geraman yang tertahan.
“Maaf, Pak… maaf kalau saya lancang, tapi semua data ini benar,” sahut Isvara dengan suaranya yang bergetar karena takut, “apa Anda ingat… dua puluh enam tahun yang lalu di sebuah villa di puncak, ada sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu produser film dan kita bertemu di sana malam itu.”
Brotosuseno melempar map itu ke atas meja dengan keras, seolah benda itu adalah bara api yang membakar telapak tangannya. Pria itu berdiri dengan cepat.
"Jangan membuat lelucon gila untuk memeras saya, Nyonya Isvara! Aku memang ingat moment itu tapi aku bahkan lupa nama kamu! Dan kita hanya bertemu sekali pada malam itu sebelum ditugaskan ke Timor Timur!”
"Saya nggak serendah itu untuk membuat sebuah dokumen palsu dari rumah sakit, Pak!” Suara Isvara terhenti sesaat, ucapannya menggantung di udara. Perempuan itu ikut berdiri dan menghela napas panjang.
“Semua data itu valid, karena detektif yang saya sewa telah menginvestigasi semua dan tes DNA itu juga benar, karena saya mendapatkannya dari Ezra, putra Bapak. Konita memang benar putri kandung Bapak.”
“Jadi… Ezra sudah tahu soal ini?” Rahang Brotosuseno tampak mengeras, tangannya pun terkepal erat hingga kuku jarinya menusuk telapak tangan. Laki-laki itu terlihat sangat shock saat menyadari calon menantunya adalah putri kandungnya sendiri.