Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #55

Pelanggan Tua Bertopi Rimba

Keesokan hari,

Asap mengepul dari wajan besar yang dipanaskan di atas kompor bertekanan tinggi. Suara spatula besi yang beradu dengan dasar wajan, menciptakan melodi yang familier di telinga Konita. Aroma bawang putih yang ditumis bersama cabai merah dan terasi seketika menyelimuti udara malam di pinggiran kota Jakarta.

Gadis berusia dua puluh lima tahun itu menyeka keringat di pelipisnya menggunakan punggung tangan, lalu mematikan kompor, menuangkan nasi goreng cumi hitam yang masih mengepul panas ke atas piring keramik putih.

"Meja nomor tiga, Mira," ujar Konita sambil menyerahkan piring itu ke seorang gadis yang berdiri di sebelahnya, “minumannya sudah?”

“Siap Kak Nita… tadi sudah dibuatkan Bang Sani.” Konita hanya mengangguk, sementara Mira bergegas membawa piring itu dan berjalan gontai ke arah meja nomor tiga.

Luqman Taher yang sedang mengelap meja tampak tersenyum bangga saat melihat putrinya telah kembali ke dunia yang dicintainya. Meskipun belum banyak pengunjung yang datang ke warung tenda yang bertuliskan “Nasi Goreng & Seafood Bang Tarjo” yang jauh dari kemewahan dapur restoran elit tempatnya dulu bekerja, hal itu tidak menjadi masalah, yang pasti Konita bisa menjadi dirinya sendiri di warung tenda ini.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, dada Konita terasa lega, meskipun di tengah suasana yang panas, berisik suara klakson motor, dan debu jalanan yang beterbangan.

Di sana tidak ada media, kamera, ataupun tatapan yang merendahkan dan yang terpenting, tidak ada Ezra Yogaswara yang terus menghubunginya, karena Konita telah memblokir semua akses pria itu ke dalam hidupnya.

Di seberang jalan, berjarak sekitar dua puluh meter dari warung tenda itu, sebuah mobil Land Cruiser hitam tampak terparkir di tempat yang sedikit gelap, terhalang bayangan pohon angsana yang besar.

Dari dalam mobil, Brotosuseno menatap lurus ke arah warung tenda yang diterangi lampu bohlam kekuningan. Dadanya bergemuruh hebat. Tangannya yang diletakkan di atas paha saling meremas, menyalurkan kegugupan yang tidak pernah dia rasakan bahkan saat menghadapi musuh di medan perang sekalipun.

"Jenderal, apa kita akan turun?" tanya pria berjas hitam di kursi kemudi, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang dingin.

"Kalian tetap di mobil. Biar saya sendiri," perintah Brotosuseno seraya membuka pintu mobil.

Sang Jenderal melangkah turun, mengenakan pakaian yang sangat jauh dari kesehariannya. Kemeja flanel kotak-kotak yang warnanya telah pudar, celana jeans usang, sebuah masker hitam, dan topi rimba berwarna hijau lumut yang pinggirannya ditarik rendah menutupi separuh wajahnya.

Pria tegap itu berjalan gontai, meniru bahasa tubuh pria paruh baya lainnya yang biasanya kelelahan setelah bekerja seharian. Jenderal Brotosuseno melangkah masuk ke bawah terpal oranye warung tenda tersebut.

Lihat selengkapnya