Suara deru knalpot motor yang melintas di jalanan yang terletak di area pinggir kota Jakarta seolah meredup, tergantikan oleh keriuhan pikiran di dalam kepala Konita. Sambil mengelap meja plastik yang baru saja ditinggalkan pelanggan, ekor mata gadis itu tidak bisa lepas dari meja yang berada di sudut paling ujung.
Pelanggan bertopi rimba itu masih duduk di sana. Nasi goreng di piringnya sudah berkurang setengah. Namun, pria itu makan dengan gerakan yang sangat lambat. Bahunya yang lebar dan tegap tampak turun, seolah memikul beban yang tidak kasatmata. Sesekali, pria itu mengangkat tangan kirinya, mengusap area mata dengan gerakan kaku. Pria itu terlihat menangis.
Entah mengapa dada Konita terasa berdesir, dia merasa ada dorongan aneh yang mendadak menyeruak di ulu hatinya. Sebagai seorang koki, gadis itu terbiasa melihat orang tersenyum, tertawa, atau mengobrol santai saat memakan masakannya. Namun, melihat seorang pria paruh baya memakan nasi gorengnya sambil menangis dalam diam, hal itu menorehkan rasa ngilu yang tidak bisa Konita jelaskan.
Tanpa berpikir panjang, Konita segera berjalan menuju gerobaknya. Diambilnya sebuah mangkuk kecil berukuran sedang, menuangkan kuah kaldu seafood panas yang biasanya hanya diberikan jika ada pelanggan yang minta, lalu menaburkan sedikit daun bawang di atasnya. Dengan langkah pelan, Konita menghampiri meja sudut tersebut.
"Permisi, Pak," sapa Konita lembut.
Brotosuseno terkesiap dan segera menarik maskernya ke atas menutupi hidung, lalu menarik pinggiran topinya lebih rendah, berusaha menyembunyikan mata merahnya. Tangan pria itu memegang sendok dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pria itu tidak ingin Konita mengetahui penyamarannya, karena gadis itu sudah paham betul bagaimana bentuk wajahnya yang dulu dia kenal sebagai calon mertuanya.
"Ya... ada apa, Nak?" jawab Brotosuseno dengan suara parau yang sengaja dia tekan dalam-dalam.
Konita meletakkan mangkuk kaldu itu di samping piring sang Jenderal. "Ini ada kaldu seafood hangat. Gratis dari warung kami. Bapak sepertinya kedinginan, dari tadi saya perhatikan bapak sering mengusap mata. Mungkin udara malam ini terlalu dingin."
Jantung Brotosuseno seakan berhenti berdetak. Ditatapnya mangkuk kaldu yang masih mengepul di atas meja di depannya, lalu mendongak sedikit untuk menatap wajah putrinya dari balik bayangan topi.
Konita menatapnya dengan sorot mata khawatir yang begitu tulus. Mata gadis itu persis seperti miliknya, menatapnya bukan sebagai seorang jenderal berbintang, melainkan sebagai seorang pria tua yang butuh kehangatan.
"Kamu... kamu nggak perlu repot-repot, Nak," ucap Brotosuseno susah payah, menahan getaran hebat di pita suaranya.