Tiga bulan kemudian,
Aroma debu beton dan cat segar mendominasi lantai satu sebuah bangunan tiga lantai di kawasan elite Senopati, Jakarta Selatan. Suara bising bor listrik dan ketukan palu saling bersahutan, memecah kesunyian sisa hujan sore itu.
Ezra Yogaswara tampak berdiri di tengah ruangan yang masih setengah jadi tersebut. Lengan kemeja mahalnya digulung hingga ke siku, rambut yang biasanya tersisir rapi kini tampak berantakan akibat sering diusap dengan kasar. Matanya yang tajam meneliti cetak biru besar yang digelar di atas meja kayu sementara. Gurat kelelahan tergambar jelas dari lingkaran hitam di bawah matanya.
"Sirkulasi udaranya masih kurang, Mandor Hasan," tegur Ezra dengan suara tegas yang menggema sambil menunjuk ke arah langit-langit bagian belakang. "Dapur ini butuh dua exhaust fan industri tambahan. Chef kita nggak bisa kerja di ruangan yang sirkulasi udaranya buruk, dia gampang pusing kalau kekurangan oksigen."
"Baik, Pak Ezra… besok tim saya akan langsung bobol jalurnya," jawab mandor berbaju proyek itu seraya mencatat instruksi Ezra di buku kecilnya.
Saat mandor itu menjauh, seorang pria berpakaian kasual dengan kacamata minus berjalan mendekat, menyodorkan segelas es kopi Americano. Pria muda itu adalah Robby, sahabat Ezra sejak SMA sekaligus investor utama di proyek ini.
"Lo bisa mati berdiri kalau begini terus, Za," ujar Robby sambil bersandar pada pilar beton. "Gue perhatikan selama seminggu ini, elo cuma tidur tiga jam sehari. Lo mau bangun restoran atau mau bangun candi Prambanan buat Roro Jonggrang?"
Ezra menerima gelas kopi itu, lalu meminumnya dalam sekali teguk tanpa mempedulikan rasa pahitnya. "Aku cuma mau resto ini cepat selesai, Bi… interior lantai satu harus beres akhir bulan ini."
Robby mendengus. "Untuk Konita, ‘kan?"
Gerakan Ezra terhenti, lalu meletakkan gelas plastik kosong itu di atas meja. Tatapannya menerawang menyusuri area dapur yang luas yang dirancang khusus dengan detail yang luar biasa perfeksionis. Konter marmer putih, kompor enam tungku bermerek internasional, dan tata letak perabotan yang sangat efisien. Semuanya adalah impian Konita yang pernah gadis itu ceritakan padanya di malam-malam saat mereka merajut angan bersama.
"Ya… untuk Konita," jawab Ezra pelan, suaranya sarat akan kerinduan yang menyiksa, "dia kehilangan pekerjaan gara-gara skandal Nyonya Isvara, lalu kehilangan martabatnya. Setidaknya, aku harus mastiin dia nggak kehilangan mimpinya."
"Terus masalah utamanya gimana? Lo udah bisa hubungin dia?" tanya Robby hati-hati.
Ezra menggeleng getir, sebuah senyum miris terbit di bibirnya. "Nomorku diblokir… dia tinggal di rumah ayah angkatnya sekarang di Cawang. Aku nggak berani menyusulnya ke sana. Dia... dia sangat marah, Bi… dia pasti menolak aku kalau aku ke sana."
"Gue masih nggak habis pikir sama jalan ceritanya, Za." Robby menggeleng pelan, "maksud gue, seberapa besar peluang lo pacaran sama cewek yang ternyata anak kandung dari bapak angkat lo sendiri? Ini gila, Za… cerita elo ini kayak sinetron aja."
"Ini bukan lelucon, Robby… dan jaga rahasia ini, jangan sampai keluar! Cuma elo yang aku kasih tahu, bahkan Bundaku sendiri nggak tahu tentang Konita." Ezra menatap sahabatnya tajam.
"Sorry, sorry... gue nggak bermaksud bercanda dan gue janji… gue bakal jaga rahasia ini sampai mati! Sumpah, demi Tuhan! Elo percaya gue, 'kan?" Robby mengangkat salah satu tangannya ke atas, "tapi jujur aja, tindakan lo nyembunyiin identitas bokap lo itu memang fatal. Konita itu perempuan independen, mandiri. Dia benci dibohongi lebih dari dia benci kemiskinan."
Ezra memejamkan mata sesaat, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku tahu... aku memang terlalu sombong. Aku pikir dengan merahasiakan identitas Jenderal Samiaji Brotosuseno, aku bisa melindunginya dari gempuran media. Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Ayahku pelan-pelan sebelum Nita tahu, tapi ternyata keputusanku itu justru menghancurkan kepercayaannya."
"Dan lo tahu apa yang paling menyakitkan dari seorang perempuan yang independen?" Robby menepuk bahu Ezra, "saat mereka hancur, mereka nggak akan minta tolong. Mereka akan mengurung diri dan membangun tembok yang lebih tinggi."