Gulungan kertas tebal itu adalah sebuah cetak biru arsitektur. Sebuah rancangan denah restoran tiga lantai. Matanya bergerak cepat membaca detail pada kertas tersebut. Ada desain dapur terbuka yang persis seperti yang sering dia bicarakan dengan Ezra dulu.
Ada ruang penyimpanan bersuhu khusus, ada tata letak pencahayaan alami, dan di pojok kanan bawah kertas tersebut, tertulis sebuah nama dengan cetak tebal : Reveena's Plate.
"Mas Ezra..." air mata Konita akhirnya jatuh mengenai kertas desain tersebut. "Dia mau melanjutkan proyek resto ini?"
"Dia membangunnya untukmu, Nita…. di Senopati," ucap Luqman lembut. "Dia bilang ke Ayah, kalau kamu nggak mau memaafkannya, nggak apa-apa, tapi dia ingin memastikan mimpimu nggak ikut mati karena masalah ini.”
Konita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya pecah, beradu dengan suara derai hujan di luar warung tenda. Sisi keras kepalanya runtuh seketika. Kemarahannya menguap, digantikan oleh kerinduan yang begitu hebat dan penyesalan karena telah membiarkan ego menguasai dirinya.
"Nita harus bagaimana, Ayah?" tangis Konita di sela isakannya. "Nita marah ke dia dan nggak mau berhubungan lagi. Nita sudah memblokir nomor ponselnya."
"Besok… kamu bisa menemuinya, Nduk." Luqman berdiri, mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang, "jangan biarkan hujan malam ini menghapus jejak orang yang benar-benar peduli padamu. Kalau kamu memang mencintainya, satukan lagi serpihan hati kalian berdua."
Konita mengangkat wajahnya, menatap ke arah ayah angkatnya dengan tatapan yang kini dipenuhi tekad yang bulat. Saat itu hujan mulai reda, gadis itu segera berdiri seraya berkata, “Baiklah, besok aku akan menemui Mas Ezra, sekarang kita bereskan warung tenda dulu, karena hujan sudah mulai reda.”
Luqman mengangguk mantap, lalu mengajak Sani dan Mira untuk membereskan warung tenda tersebut. Sementara Konita bergegas memasukkan gulungan kertas itu ke dalam amplop coklat lagi dan memeluknya erat-erat di dada.
Dadanya bergemuruh. Dia harus menemui laki-laki itu. Konita tidak peduli siapa ayah kandungnya, ataupun Isvara, dia hanya menginginkan Ezra Yogaswara kembali padanya.
***
Keesokan hari,
Pagi itu jalanan kawasan Senopati tampak sepi dan basah. Di sebuah bangunan komersial yang masih dalam tahap renovasi, lampu-lampu proyek berwarna kuning menyorot terang menerangi tiang-tiang beton.
Konita tampak turun dari taksi, lalu melangkah hati-hati melewati papan kayu dan sak semen yang bertumpuk rapi di area depan, kemudian masuk ke dalam bangunan besar yang masih belum berdinding penuh. Pagi itu baru pukul sepuluh pagi dan dia sudah bertekad untuk menemui Ezra di tempat itu setelah mendapat informasi dari Rama, asisten kekasihnya.