Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #59

L'Aura

Tiga bulan kemudian,

Hujan badai mengguyur kawasan elite Senopati sore itu, menghantam dinding-dinding kaca tebal kedap suara dengan ritme yang konstan dan beringas.

Di balik perlindungan arsitektur bergaya industrial elegan yang belum sepenuhnya rampung tersebut, udara terasa dingin, sementara aroma pelitur kayu pinus yang masih basah, semen kering, serta debu sisa gipsum yang mengendap di lantai menguar di udara.

Jakarta di luar sana tampak berwarna abu-abu dan angkuh, kemacetan merayap bagai ular besi yang bercahaya merah di bawah langit yang menangis, seolah mencerminkan kekacauan yang tidak pernah benar-benar mati di kota ini.

Di tengah lantai satu yang dirancang khusus sebagai dapur terbuka yang merupakan panggung teater tempat seni kuliner dipertontonkan, Konita Reveena tampak berdiri mematung di sana.

Jari-jarinya yang ramping dan terbiasa memegang pisau dapur kini mencengkram erat tepi meja kitchen island berbahan marmer hitam Nero Marquina, jenis marmer hitam premium yang berasal dari Spanyol.

Matanya yang berwarna coklat kemerahan menatap kosong pada pantulan dirinya sendiri di permukaan marmer tersebut. Ada kelelahan yang menggantung di kantung matanya, jejak-jejak malam tanpa tidur akibat trauma diburu media massa, dicap sebagai anak haram, hingga dipecat secara tidak hormat.

"Kamu melamun lagi, Ta."

Suara bariton yang berat dan menenangkan, memecah lamunan Konita. Ezra Yogaswara melangkah mendekat dari arah tangga penghubung. Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak luar biasa berwibawa meski hanya mengenakan kemeja linen berwarna navy yang lengannya digulung asal hingga ke siku.

Kacamata bacanya masih bertengger di pangkal hidung yang mancung, memantulkan cahaya dari lampu gantung temaram di atas mereka. Ezra berdiri tepat di belakang Konita, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma musk maskulin, tembakau, dan kopi hitam pekat langsung menginvasi indra penciuman gadis itu.

Aroma Ezra adalah jangkar bagi Konita, satu-satunya hal yang menahannya agar tidak hanyut dalam kewarasan yang nyaris hancur. Tangan kokoh pria itu melingkar posesif di pinggang Konita, sementara dagunya bersandar di bahu sang gadis.

"Lantai dua sudah selesai sembilan puluh persen," bisik Ezra tepat di telinga Konita, mengirimkan getaran hangat yang melawan dinginnya ruangan, "untuk area private dining, aku makai panel kayu oak dan beludru merah marun persis seperti yang kamu inginkan.”

“Lantai dua benar-benar private, pelanggan nggak akan terganggu oleh dentingan wajanmu dan lantai tiga... khusus aku buat untuk ruang kerjamu dan ruang meeting plus area administrasi. Bangunan ini adalah bentengmu, Ta."

Konita menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di dada bidang Ezra. "Semuanya terlalu mewah, Mas. Aku... aku bahkan masih merasa nggak pantas berada di sini."

"Jangan mulai lagi," potong Ezra cepat, nada suaranya berubah tegas, menyiratkan rasa tidak suka pada rasa rendah diri yang kerap meracuni pikiran kekasihnya.

Lihat selengkapnya