Malam beranjak semakin larut, menyelimuti kawasan pinggiran kota Jakarta dengan keremangan yang hanya dipecahkan oleh lampu-lampu jalan berwarna jingga dan sorotan lampu kendaraan yang berlalu-lalang.
Di salah satu sudut trotoar yang basah oleh sisa hujan, sebuah warung tenda nasi goreng khas pinggir jalan tampak sudah tertata rapi, semua peralatan makan sudah dicuci bersih. Suasananya begitu kontras dengan kemewahan restoran Senopati.
Di sini, hawa panas yang lembap berpadu dengan aroma tajam dari terasi yang digoreng, bawang putih yang ditumis di atas wajan baja yang mendesis, dan asap knalpot MetroMini yang sesekali lewat saat pelanggan memenuhi warung tenda.
Dan malam itu, dari balik etalase kaca sederhana yang mulai berembun, Konita tampak berdiri di sana, melepas celemek kainnya yang sudah bernoda kecap dan cipratan minyak.
Bagi Konita, tempat ini pernah menjadi satu-satunya tempat yang memberikan pelukan hangat dari kejamnya dunia luar. Di saat media massa memburunya layaknya buronan kriminal, dan restoran bintang lima menolak mempekerjakannya, Bang Tarjo pemilik warung tenda ini yang menerima dia bekerja tanpa bertanya tentang asal usulnya.
Konita menatap ke arah Bang Tarjo yang sedang duduk di kursi plastik, menghitung lembaran uang receh dan puluhan ribu hasil penjualan malam itu. Pria paruh baya bertubuh tambun dengan kaus kutang putih yang sudah kusam tampak begitu lelah. Namun, senyum tulus tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Bang," panggil Konita pelan. Suaranya terdengar serak, menahan bongkahan emosi yang menyumbat tenggorokannya.
Bang Tarjo mendongak, lalu menghentikan aktivitasnya, seolah sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh koki terbaik yang pernah bekerja di warungnya itu. "Udah waktunya ya, Neng Nita?"
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh melewati pipi Konita. Gadis itu mengangguk kaku. "Mulai besok... Nita udah nggak bisa bantu-bantu di sini lagi, Bang. Restoran baru Konita... harus segera diurus secara serius."
Suasana di dalam warung tenda itu mendadak hening. Sani, pemuda kurus yang biasanya bertugas membuatkan minuman segera menghentikan gerakannya, menata piring dan gelas di gerobak. Sementara Mira, karyawan yang lain yang sedang mengelap meja berlapis plastik motif bunga, ikut berdiri mematung, menunggu apa yang akan disampaikan Konita.
"Konita minta maaf kalau selama ini banyak merepotkan kalian bertiga," lanjut gadis itu sambil terisak pelan, lalu melangkah mendekati Bang Tarjo. Tanpa memperdulikan status atau bau keringat, Konita memeluk pria paruh baya itu layaknya memeluk seorang ayah.