Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #61

Kakakku, Bosku

Satu minggu sebelum malam Grand Opening, intensitas kesibukan di restoran L'Aura mulai melonjak drastis hingga menyentuh titik didih. Di dalam dapur komersial lantai satu yang berdinding baja anti karat atau stainless steel, suhu udara terasa membakar kulit meskipun pendingin ruangan raksasa di langit-langit telah menyala maksimal.

Suara letupan minyak panas yang beradu dengan daging Wagyu tingkat A5, dentingan pisau koki yang memotong sayuran dengan kecepatan kilat, dan teriakan instruksi bersahut-sahutan menciptakan simfoni kekacauan yang terstruktur.

Di tengah medan perang itulah Konita menemukan kewarasannya. Gadis itu telah menyusun tim kulinernya di dapur dengan mengajak beberapa teman seperjuangan yang dia kenal dengan baik untuk bekerja sama dengannya, sementara tim administrasi disusun oleh Ezra dan Robby.

Siang itu, Konita sedang berdiri di dekat meja, mengenakan seragam chef putih yang masih bersih yang dibuat di penjahit terbaik, kedua bola matanya tampak menyapu tajam sambil mencicipi setiap piring yang lewat di depannya.

"Truffle Mushroom Risotto-nya kurang pekat! Tambahkan sedikit parmesan dan kaldu!" teriak Konita lantang, suaranya membelah kebisingan dapur.

Wajah cantiknya memerah karena hawa panas, peluh membasahi pelipis. Namun, ada kepuasan yang mendalam di matanya, karena area ini adalah kerajaannya, dan di sini, dia penguasa yang mutlak.

Di tengah ketegangan yang memacu adrenalin para asisten koki tersebut, pintu dorong dua arah yang memisahkan dapur dengan area makan tiba-tiba terbuka dan berayun kasar.

Seorang gadis remaja berusia lima belas tahun terlihat melangkah masuk tanpa rasa bersalah. Gadis itu adalah Shiela, adik tiri Konita yang datang ke resto, mengenakan kaus oversized merek Balenciaga berwarna hitam, celana jeans pendek, dan sepatu sneakers edisi terbatas.

Rambut panjangnya yang direbonding lurus diikat asal ke belakang. Aroma parfum floral yang manis dan mahal seketika merangsek masuk, bertabrakan secara brutal dengan aroma bawang karamel dan kaldu sapi yang pekat.

"Kak Nitaaa!" lengkingan suara cempreng itu membuat seluruh aktivitas di dapur terhenti selama satu detik. Konita pun terkesiap, kaget.

Gadis itu memutar kedua bola matanya, lalu memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. Diletakkan pinset platting-nya dengan kasar di atas meja, lalu berjalan menghampiri remaja itu yang terlihat menyeringai senang.

Lihat selengkapnya