Darah Yang Menagih

Sally Diandra
Chapter #62

Ancaman Terakhir Hendra

Senja merangkul kota Jakarta dengan langit yang berwarna tembaga, berpadu dengan warna kelabu sisa hujan. Di sepanjang jalan kawasan elite Senopati, antrean mobil mewah tampak merayap pelan, membelah kemacetan ibu kota yang tidak pernah tidur. Lampu-lampu jalan mulai menyala terang, memantulkan cahaya keemasan di atas aspal yang masih basah.

Di sanalah restoran L'Aura tampak berdiri angkuh dengan bangunan tiga lantai bergaya industrial modern yang kini bermandikan cahaya lampu sorot yang dramatis. Karangan bunga berisi ucapan selamat berjejer tanpa putus dari ujung trotoar hingga ke pintu utama kaca tempered restoran tersebut.

Di area penyambutan tamu, kilatan blitz kamera dari para paparazzi yang tertahan di luar garis pembatas menyambar dengan beringas, seolah ingin menembus kaca.

Konita tampak berdiri mematung di ambang pintu, menatap keramaian itu dengan napas yang tertahan di dada. Malam ini, dia tidak mengenakan gaun malam, tapi mengenakan seragam chef eksekutif putih bermaterial premium yang dijahit khusus pas di lekuk tubuhnya yang ramping, lengkap dengan nama 'Konita Reveena - Head Chef' yang terjahit rapi dengan benang emas di dada kirinya. Rambut kecokelatannya digelung rapi, menampilkan leher jenjangnya yang menawan.

"Tanganmu dingin sekali, Ta," bisik Ezra sambil meremas lembut jemari Konita. Pria itu berdiri bagai benteng yang tidak tertembus di sisi Konita, mengenakan setelan jas navy kasual tanpa dasi yang membuat auranya tampak mematikan sekaligus memesona.

"Aku takut, Mas Ezra," aku Konita, suaranya sedikit bergetar, "kilatan kamera itu… mengingatkan aku waktu mereka mengejar dan meneriaki aku sebagai anak haram."

Ezra menarik Konita lebih dekat, tidak peduli jika kamera di luar sana merekam kemesraan mereka. "Lihat aku," perintah Ezra lembut. Namun, tegas. Saat Konita menengadah, Ezra menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat kemerahan itu.

"Malam ini… mereka tidak datang untuk menghakimi aibmu. Mereka datang untuk memuja mahakaryamu. Kamu adalah Ratu di tempat ini. Paham? Jadi buang rasa takut itu."

Konita menarik napas panjang, meresapi aroma musk Ezra yang selalu berhasil membius ketakutannya, lalu mengangguk mantap. "Aku paham, Mas."

Tepat pada saat itu, perhatian mereka teralih ketika sebuah mobil Alphard hitam mengkilap berhenti tepat di drop-off lobby. Pintu otomatis pun terbuka. Isvara Jennitra turun, mengenakan gaun sutra warna merah maroon yang sederhana.

Namun, memancarkan keanggunan seorang diva. Di belakangnya, Freya, sang asisten setia Isvara dan Shiela berjalan mengikutinya. Malam itu, Shiela mengenakan gaun selutut yang warnanya senada seperti sang Diva.

Lihat selengkapnya